Suaramu telah meruntuhkan aku pada suatu malam, di saat langit menantang takdirku yang gerimis. Nona, cinta memang demikian adanya; di saat rindu kerap tertunduk oleh tabir manusiawi, atau ketika hati dihakimi dalam penantian.
Tentang cinta, kita hanyalah manusia yang tertinggal karenanya; atau telah usang di kaki sang waktu. Aku hanyalah suatu doa, nan tertatih di saat purnama memberi segala prakira akan kerinduan terakhir. Semoga engkau memahamiku demi memupus luka cintamu.
Tiada rindu yang takluk oleh bujuk suatu hujan. Dan, cinta kian mencemburu kota ini karena keagungan hasratnya. Pun aku mengagumi engkau dengan beberapa dosaku yang kerap tersujud di wajah para lelampuan. Nona, cinta tiada mengadili sang usia; walau jaman nian mengetuk kehendak pintu tabir…
Sesungguhnya, panggung itu telah melukai takdir dalam tarian terakhir. Ya, topeng ini enggan menerjemah setiap hati yang tergurat oleh hikayatku tentang cinta… Bersenandunglah perih, dan bersenandunglah demi syair hati nan menyempurna ayat-ayat luka!
Di manakah cinta akan menghakimi impiannya? Kita tiada akan mengetahui, sebelum air mata Tuhan bersimpuh di kaki suatu percintaan.]
Nona, aku telah mendamba engkau dengan memenjara takdirku. Cinta ini demikian larut oleh bisik sang kota, pun waktu kerap memburu agar malam tiada usai. Mungkin, kita akan menjadi makna di bentang sayap jaman; sebelum fana kembali menjemput suatu rasa.
Kita telah menari untuk kerapuhan hasrat atau keindahan yang terluka. Panggung tiada memberi keadilan bagi pecinta, demikian setiap nada enggan memahami arti rindu. Sesekali, libreto kian menyaji samarnya beberapa hati di antara cahaya.
Aku menyadari, bahwa setiap cinta akan berakhir dalam salju yang dapat menari. Dan kita merupakan salju itu…







