Pelangi Cinta Negeri: Rumpies The Club

Mengungkapkan rasa cinta kepada negeri sendiri, Ibu Pertiwi,

bisa dengan apa saja. Menaklukkan puncak gunung tertinggi,

menuruni lembah terdalam, dan mengarungi samudera luas

dengan kibaran Sang Merah Putih adalah kebanggaan anak

negeri. Tulisan, foto dan gambar bergerak merupakan wadah

untuk mengungkap rasa cinta itu.

Tetapi, Rumpies mengungkapkan rasa cintanya kepada negeri

dengan cara yang tergolong unik, yaitu dengan puisi. Dalam

puisi, keberanian dan kepahlawanan bisa disampaikan dengan

halus. Sebaliknya, ketidakadilan juga bisa disuarakan dengan

keras dan lantang lewat puisi. Itulah yang dilakukan anggota

komunitas Rumpies dengan puisi-puisi mereka.

(Pepih Nugraha – COO Kompasiana)

“Di jaman pembangunan ini tuan hidup kembali dan bara

kagum menjadi api”, selarik puisi karya penyair CH. Anwar

yang berjudul, ” Diponegoro” tersebut di atas mengisyaratkan

tentang kesemangatan untuk mengisi kemerdekaan dengan

sesuatu yang positif dan kreatif.

Lomba cipta puisi kemerdekaan yang diadakan oleh

komunitas RTC di sosial media dalam rangka menyambut

dan menyongsong Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

ke-70, bisa menjadi penanda bangkitnya kembali ideologi

nasionalisme dalam ranah puisi.

Penyair Umbu Landu Paranggi pernah mengatakan dalam satu

wawancara dengan radio Remaco: Seorang penyair itu harus

punya ideologi.

Semoga event puisi Merah Putih yang diprakarsai oleh

komunitas Rumpies The Club ini menghasilkan karya puisi

yang bukan hanya sekedar membunyikan estetika, dan etika,

tapi juga menyuarakan spirit kebangsaan dan nilai-nilai

ketuhanan.

(Giyanto Subagio – Pekerja Seni dan Aktifis Sosial)

Menulis puisi memang bisa mengambil tema apapun.

Karena dengan puisi orang bisa menyampaikan persoalan

dengan kalimat pendek, tetapi memiliki makna yang kental.

Kali ini kita diberi puisi, yang temanya luas, dan menyangkut

sikap kebangsaan, yakni nasionalisme.

Melalui puisi, satu komunitas yang menamakan diri Rumpies

The Club mengajak menulis puisi dengan tema nasionalisme

yang mereka tandai melalui kalimat ‘merah putih’. Karena

kalimat ini ditaruh pada konteks Kemerdekaan Indonesia,

yang kini beruisia 70 tahun, maka kita kenali sebagai puisi

nasionalisme. Tema seperti yang diajukan oleh Rumpies The

Club ini, pada masa sastrawan angkatan 45 telah dilakukan,

Chairil Anwar hanyalah salah satu dari sejumlah sastrawan

lainnya, termasuk oleh para pelukis angkatan Sudjojono,

Affandi dan lainnya.

Pada era yang semakin terbuka dan ruang-ruang tidak

lagi memiliki batasan yang tegas, apa yang disebut sebagai

nasionalisme seringkali menjadi bahan pertanyaan. Dan

puisi nasionalisme yang kita baca kali ini, tidak berangkat

dari semangat 45 seperti masa lalu, melainkan memiliki

pemahaman lain sehingga nasionalisme di era digital

memiliki makna yang berbeda dengan nasionalisme 45.

Maka, sastra digital, sebut saja begitu, dari Rumpies The

Club ini, saya kira mengajak generasi sekarang memahami

nasionalisme secara lain melalui karya sastra dalam hal ini

puisi.

(Ons Untoro – Penyair dan Pegiat Budaya)

Artikel Terbaru

10 November 2025

Halo, teman-teman semuanya. Sedang merasa...

03 August 2025

Pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah fondasi. Cara...

17 July 2025

Apa jadinya jika hidup kita terus-menerus berubah...

02 March 2025

Pernahkan pada suatu moment, kalian mengatakan...

01 March 2025

Kesepian bukan sekadar perasaan melankolis yang...

28 February 2025

Manusia adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan...

26 February 2025

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Aman...

26 February 2025

Menemukan orang yang tulus itu sulit. Sama...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?