Muh. Ikhsan: Infaq, Shalat Berjamaah …

Segala puji bagi Allah Swt. Tuhan seruh sekalian alam,

Tuhan seluruh makhluk, Tuhan yang wajib disembah oleh

siapapun. Yang memberikan sekaligus membatasi rezeki

kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Seiring dengan itu,

shalawat dan salam selalu kita sampai kepada junjungan kita

Nabi Muhammad Saw. semoga Allah Swt. menempatkannya

pada tempat yang terpuji lagi mulia. Dan semoga dengan

shalawat dan salam yang selalu kita sampaikan kepada Beliau

dapat menjadi jembatan terbetiknya syafaat kelak di hari

kemudian. Amin.

Berlomba untuk meraih pahala merupakan cirikhas

kehidupan para sahabat. Abu Dzar Al-Ghifari ra. Meriwayat

hadits Rasulullah, sebagai berikut:

Dari Abû Dzar: Sesungguhnya sebagian dari para sahabat

berkata kepada Nabi : “Wahai Rasûlullâh, orang-orang kaya

lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat

sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami

berpuasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta

mereka”. Nabi bersabda: “Bukankah Allâh telah menjadikan

bagi kamu sesuatu untuk bershadaqah? Sesungguhnya

tiap-tiap tasbih adalah shadaqah, tiap-tiap tahmid adalah

shadaqah, tiap-tiap tahlil adalah shadaqah, menyuruh kepada

kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah

shadaqah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu

(dengan istrinya) adalah shadaqah“. Mereka bertanya:

“Wahai Rasûlullâh, apakah (jika) salah seorang di antara kami

memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah

menjawab: “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi

syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika

ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat

pahala”. (HR Muslim).

Bahwa tulisan yang berjudul Infaq, Shalat Berjamaah,

Bangsaku, Jagalah ….. disadur dari konsep pendidikan dan

latihan yang berjudul “Pengaruh Pendidikan dan Latihan

Berinfaq yang terintegrasi pelaksanaannya dengan Shalat

Berjamaah di Masjid terhadap usaha memakmurkan masjid,

revolusi mental, pengentasan kemiskinan, pemberantasan

ajaran sesat menyesatkan, penyakit-penyakit social masyarakat

untuk meraih kesejahteraan hidup yang lebih berkualitas” ini

semoga dapat menjadi acuan dalam rangka mengamalkan

nilai-nilai ajaran Islam terutama yang berkenaan dengan shalat

berjamaah dan infaq. Sebab berdasarkan keterangan al-Qur’an

maupun Hadits bahwa melaksanakan shalat berjamaah dan

infaq yang dikeluarkan pasti mendapat ganjaran, tidak hanya di

dunia ini tetapi terlebih lagi di hari kemudian. Bahwa berinfaq

itu tidak hanya untuk orang – orang yang berkecukupan, tetapi

juga untuk semua orang yang ingin memperbaiki diri dan

kehidupannya ke tarap yang lebih maju dan beradab.

Bahwa dalam tulisan ini juga, penulis membangun satu

pola tertentu yang tidak sulit dilakukan oleh siapapun. Pola

tersebut diuraikan secara rinci pada bagian “Pendidikan dan

latihan berinfaq,”. Meskipun sebenarnya bahwa infaq itu

dikeluarkan oleh siapa saja, dimana dan kapan saja tanpa perlu

pola tertentu. Tetapi dalam tulisan ini, justeru hal itu menjadi

persyaratan yang harus dilakukan. Mengapa demikian? Sebab

berdasarkan pengalaman penulis, bahwa berinfaq dengan

pola tertentu tersebut justru banyak hal yang dijumpai seperti

termuat pada bagian tantangan dan masa transisi.

Bahwa apa yang selama ini kita lakukan ternyata masih

lebih banyak kelirunya dari pada benarnya. Diketahui juga

bahwa sesungguhnya kita manusia benar-benar tidak mengenal

adanya kepuasan. Iman tergadai hanya karena sejumlah harta

yang sedikit.

Pada hari pertama sekali dalam proses latihan berinfaq

yang menggunakan perhitungan sebagaimana penulis

maksudkan sebagai pola tertentu, kesan atau kalimat atau

pernyataan pertama yang muncul pada saat itu adalah gejolak

ketidakpercayaan atas dasar perhitungan infaq yang diketahui

perolehan nilainya sangat besar jauh melampaui dari sejumlah

infaq yang dikeluarkan. Tetapi nilai-nilai dari perhitungan itu

tidak nyata. Kita menyebut tidak nyata karena perhitungan

infaq yang dikeluarkan tersebut hanya dalam bentuk angkaangka.

Hal inilah kemudian penulis sebut sebagai pertarungan

keimanan, sekaligus menjadi ukuran kadar keimanan kita

kepada Allah Swt. segera setelah itu, apabila melewati fase

ini, maka variable lain yang akan muncul seperti “takut

kehabisan uang, takut jatuh miskin”.

Selanjutnya, bahwa tulisan ini dibuat dalam bentuk

sederhana dengan bahasa yang sederhana. Hal ini dilakukan

agar yang membacanya dapat dengan mudah memahami isi

dan tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, tulisan ini

cocok dibaca oleh siapa saja.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Penerbit yang

telah bersedia menerbitkan buku kecil ini sehingga dapat

tersebar hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca.

Kemudian, terima kasih yang tak terhingga penulis

sampaikan kepada kedua orang tua penulis Ibrahim dan Sitti

Hasanah, berkat jerih payah mereka berdua, memelihara,

membesarkan, dan menyekolahkan penulis sehingga

mengetahui secercah kebenaran. Ucapan terimakasih sebagai

tanda bakti penulis kepada kedua orang tua penulis, meskipun

sesungguhnya ucapan itu tidaklah cukup, tetapi itulah yang

mampu penulis lakukan. Semoga Allah Swt senantiasa

memeliharanya, menjaganya, melindunginya, merahmatinya

dengan mencukupi kebutuhan hidupnya, memberinya

kesehatan prima jauh melebihi dari apa yang mereka berdua

lakukan terhadap penulis. Amin yaa rabbanaa.

Demikian pula, terima kasih penulis sampaikan kepada

adik-adik penulis, baik yang masih hidup maupun yang telah

lebih dulu dipanggil oleh Allah Swt. berkat mereka semua,

penulis menjadi sadar bahwa persaudaraan itu sungguh

sangat tak ternilai harganya. Penyambung kasih sayang dan

jalan untuk memperpanjang umur. Kepada adik penulis yang

telah lebih dulu berpulang kerahmatullah, penulis kirimkan

al-Fatihah dan yang masih hidup, penulis berpesan bahwa

teruslah berjuang demi mencapai keselamatan hidup dunia

dan akhirat.

Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan

kepada istri saya tercinta, Sitti Raodah, S.Pd. yang senantiasa

setia menemani penulis dalam suka maupun duka, susah

maupun senang. Semoga Allah Swt melapangkan rezekinya,

memeliharanya sehingga menjadi isteri yang shalehah.

Khusus kepada anak saya Saadillah Yusuf Al-Ghifari, bahwa

tidak ada materi yang Bapak dapat berikan selain buku

kecil ini dan mudah-mudahan menjadi pegangan hidup kita

dalam mengarungi kehidupan ini bersama. Menjadi jembatan

terkuaknya rahasia infaq yang terpadu dengan pelaksanaan

ajaran agama yang lain terutama shalat berjamaah di masjid.

Mesjid menjadi makmur, umat pun menjadi kaya; kaya iman,

ilmu dan harta.

Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh

handai tolan, sahabat, teman-teman yang tidak dapat penulis

sebutkan satu persatu di sini atas masukan dan saran yang

membangun sehingga tulisan ini dapat terselesaikan dengan

baik.

Bahwa penulis telah berusaha sesuai kemampuan yang

ada untuk menyusun buku kecil ini, namun tetap saja masih

jauh dari kesempurnaan. Oleh kerena itu, untuk mendekati

kempurnaan, maka kritik dan saran yang membangun kepada

semua pihak sangat diharapkan.

Semoga Allah Swt senantiasa meridhai usaha kita

semua. Amin.

Penulis

Link Pilihan:

Artikel Terbaru

10 November 2025

Halo, teman-teman semuanya. Sedang merasa...

03 August 2025

Pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah fondasi. Cara...

17 July 2025

Apa jadinya jika hidup kita terus-menerus berubah...

02 March 2025

Pernahkan pada suatu moment, kalian mengatakan...

01 March 2025

Kesepian bukan sekadar perasaan melankolis yang...

28 February 2025

Manusia adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan...

26 February 2025

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Aman...

26 February 2025

Menemukan orang yang tulus itu sulit. Sama...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?