Merajut Angkasa Mendobrak Kemapanan untuk Indonesia Maju – Telkomsat – Agus Arijanto

Testomoni #1

” Layanan telekomunikasi menggunakan teknologi satelit memiliki keunggulan tersendiri untuk kondisi geografis seperti Indonesia.

Kebutuhan telekomunikasi Indonesia, baik kebutuhan masyarakat, dunia usaha maupun pemerintah, masih sangat memerlukan ketersediaan kapasitas dan layanan yang dapat dipenuhi oleh Satelit Indonesia.

Kalau dilihat dari sejarahnya, PT Telkomsat merupakan perintis layanan satelit di Indonesia dan Asia. Dari sisi sektor telekomunikasi, satelit Palapa merupakan pionir sarana pemersatu negeri ini. Sampai dengan saat ini, Telkomsat tetap menjadi benteng Indonesia dalam industri persatelitan.

Diharapkan ke depannya Telkomsat mampu memberikan solusi terbaik bagi penyediaan ragam layanan yang berkualitas dengan tarif yang semakin kompetitif. ”

Aju Widya Sari – Direktur Telekomunikasi, Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Kemenkominfo

 

 

Testomoni #2

Lahirnya perusahaan ini, pastilah didirikan oleh sekelompok orang yang visionair, memiliki perspektif jangka panjang serta memahami tantangan Indonesia di masa mendatang. Bergabungnya Telkomsat sepenuhnya menjadi bagian dari Telkom Group adalah keputusan stratejik yang penting, memungkinkan Telkomsat menjadi perusahaan yang berdaya saing tinggi dan kemampuan inovasi yang kuat.

Tidak banyak perusahaan di Indonesia yang bisa sukses dengan mengemban fungsi sosial dan pelayanan publik, kemudian bisa menjadi perusahaan yang menguntungkan. Kalau Telkomsat bisa menjadi salah satu deretan perusahaan yang seperti ini, pastilah karena kemampuan kualitas manajemen yang baik dan budaya inovasi yang tinggi.

Menulis buku perjalanan Telkomsat ini tentunya tidak mudah. Diperlukan pemahaman yang baik terhadap perkembangan teknologi global serta dinamika industri yang berubah cepat. Kiranya apa yang disajikan penulis ini, bisa memberi inspirasi banyak pelaku bisnis. Untuk itu, buku ini jangan hanya dibaca sebagai buku sejarah perusahaan tetapi pembaca harus mempelajari pemikiran para pimpinan profesional yang sudah terlibat dalam mengelola dan mendesain strategi yang efektif bagi perusahaan ini.

 

Handi Irawan D.
CEO Frontier & Founder Top Brand

 

 

Testomoni #3

Sangat bersyukur melihat PT Telkom melalui PT Telkomsat demikian konsisten menyadari pentingnya infrastruktur satelit sebagai penyedia link yang tersebar di seluruh tanah air. Masyarakat pengguna internet dimanapun berada tidak perlu lagi susah-susah mengakses jaringan selular, karena sistem satelit tetap merupakan sarana yang andal untuk coverage extension. Itu berkat berbagai jaringan backhauls yang disediakan oleh satelit semakin mudah dengan throughput yang semakin besar pula, yang ini diperoleh dari keberanian para pembuat keputusan untuk menggagas dan menggunakan lebih jauh pita-pita frekuensi yang memiliki lebar pita berlipat-lipat dibanding pita C yang sangat terbatas:  Ku dan Ka, serta mungkin V dan Q band kelak di kemudian hari.

Sangatlah pantas bagi perusahaan telekomunikasi sebesar Telkom memiliki konstelasi jaringan High Throughput Satellites (HTS) mengingat potensi kebutuhan trafik pita lebar di tanah air. Mungkin perkembangan system NGSO pita lebar juga bisa mentargetkannya menjadi salah satu portofolio jenis layanan satelit yang semakin membutuhkan kecepatan tinggi dan latency yang lebih kecil, seiring dengan perkembangan jaringan 5G, 6G, dan seterusnya, yang tidak bisa dipenuhi oleh satelit GEO.

Semoga buku Merajut Angkasa Mendobrak Kemapanan Menuju Indonesia Maju ini bisa dijadikan sebagai buku pegangan insan satelit dan siapapun yang terkait dengan satelit komunikasi dan aplikasinya, untuk tetap mencintai bidang ini sebagai profesi ataupun bisnis, sampai kapanpun.

 

Arifin Nugroho, Former Kepala Proyek Satelit Telkom-1 & Ketua Asosiasi Satelit Indonesia Periode Tahun 1998 – 2006

 

Testomoni #4

Sejarah singkat Satelit Telkom, perjalanan awal perusahaan di bidang satelit palapa A-1 dan seterusnya dan sampai dengan penyediaan layanan lain di hulu sampai saat ini dengan adanya satelit-satelit baru yang dimiliki Indonesia.

Pembangunan Infrastruktur vs Pembangunan Nasional Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur selalu menjadi polemik, disatu pihak berpendapat Pembangunan Nasional dahulu baru  pembangunan Infrastruktur, pihak lain berpendapat sebaliknya, padahal yang benar dan efektif mencapai tujuan nasional adalah pembangunan nasional lebih dahulu secara menyeluruh agar kebutuhan nasional awal terpenuhi sehingga negara dapat hidup (survive), selanjutnya untuk meningkatkan kualitas atau manfaat bernegara, harus dilakukan pembangunan infrastruktur di segala bidang yang menyeluruh, merata, bertahap dan konsisten agar dicapai pertumbuhan manfaat nasional yang maksimal yang akan mempercepat tercapainya tujuan nasional.

Infrastruktur Telekomunikasi atau TIK saat ini, sudah saat nya menjadi leader dalam pembangunan nasional, Indonesia tidak lagi dalam tahapan survive tetapi sudah pada tahapan growth untuk mencapai tujuan nasional dengan lebih cepat dan bersaing dengan negara negara lain.

Tahapan pembangunan di atas pernah dilalui Indonesia saat membangun Infrastruktur dengan waktu, jenis, ketersediaan dana, dan teknologi infrastruktur yang tepat, yaitu pembangunan Sistim Komunkasi Satelit Domestik Palapa (SKSD) Palapa yang beroperasi mulai tahun 1976 (45 tahun yang lalu), dimana dampak dari pembangunan infrastruktur tersebut adalah meningkatnya hasil pembangunan di seluruh aspek kehidupan bangsa dengan sangat significant; ekonomi, budaya, sosial, dan hankam , masa itu dapat dikatakan sebagai masa “ the first curve of national development.

Dengan teknologi satelit, pembangunan layanan telekomunikasi nasional sebagai basis dari seluruh aspek pembangunan nasional lainnya, dapat dilaksanakan dengan cepat, menyeluruh, tidak tergantung kondisi / lokasi layanan wilayah, dengan biaya yang relatif murah dan waktu yang cepat dibandingkan pembangunan skala nasional dengan teknologi terrestrial, dengan kondisi geografis yang sangat unik dengan sekitar 13.700 pulau, maka tidak mungkin teknologi satelit di Indonesia ditinggalkan.

Setelah bekerja selama 30 th di Telkom dan 15 th bekerja dibidang konsultansi, dimana hampir seluruh waktu terkait dengan bisnis dan teknologi telekomunikasi terrestrial dan satelit,  saat ini saya menjadi Team Leader Konsutansi Studi Kelayakan dan Pengadaan 2 ( dua ) satelit SATRIA (Hot Backup Satellite dan SATRIA 1), bekerja untuk BAKTI/Kemenkominfo RI yang peluncurannya dijadwalkan di Th 2023 .

Sistim Komunkasi Satelit SATRIA (Satelit Repubilk Indonesia) yang dimiliki oleh pemerintah RI diatas mempunyai kemiripan dengan perjalaan proses pengadaan SKSD Palapa 45 tahun yang lalu yang bersifat strategis dan politis, yang pembangunannya diperuntukkan untuk wilayah wilayah non eknomis (wilayah 3 T dan kepemerintahan) dan dengan tujuan strategis nasional, diharapkan adanya Sistim Komunikasi Satelit Satria tersebut akan berdampak pada terjadinya “the second curve of nasional development.

Kesimpulan dari perjalanan kerja saya terkait pengembangan sistim komunikasi satelit di Indonesia adalah :

  • Sistim Telekomunikasi Satelit mutlak harus digunakan untuk mendukung pembangunan nasional Indonesia.
  • Pembangunan infrastruktur nasional (termasuk sistim satelit) merupakan program strategis dan harus lead dari pembangunan lainnya, apabila ada kekosongan diawal-awal operasi harus dimaklumi mengingat perlu waktu untuk tumbuhnya pembangunan disektor lainnya, infrastruktur telekomunikasi termasuk satelit mutlak harus ada sebagai fungsi “enabler“ pembangunan nasional secara keseluruhan.
  • SKSD Palapa dan Pembangunan Infrastrukur Telekomunikasi lainnya oleh BUMN/ Swasta selama ini hanya fokus di wilayah-wilayah ekonomis sedang yang non ekonomis dan strategis masih belum tertangani, sangat logis karena misinya Bisnis dan Profit.
  • Saat ini sd Th 2039 diidentifikasi terdapat 150 ribu titik / lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia yang membutuhkan layanan internet, dengan kapasitas perlokasi akan meningkat dari awal hanya 1 Mbps per titik layanan sd 20 – 30 MBps, atau identik dengan kapasitas satelit sebesar sekitar 500 Gbps dengan penggunaan teknologi HTS (High Troughput Satellite) atau sekitar 5 kali lipat total kapasitas seluruh satelit Indonesia saat ini.
  • Pemikiran akan hilangnya penggunaan sistim komunikasi satelit karena kalah bersaing dengan teknologi terrestrial fiber optik tidak ada lagi, bahkan saat ini teknologi satelit sudah mulai digunakan untuk Backhaul Cellular.
  • SDM SDM Pensiunan Telkom ex SPU Cibinong dengan usia sampai dengan 78 th saat ini masih banyak yang berperan dalam pembangunan sistim telekomunikasi satelit nasional Indonesia a.l. ; Sahala Silalahi (Konsultan Satelit BRI, Konsultan PMU Satria di Menkominfo), Bambang Wijarnako (Konsultan PMU Satria di Menkominfo), Nengah (Konsultan PMU Satria di Menkominfo), Widodo (Tenaga Ahli Satelit di BAKTI/Menkominfo), Bambang Setiawan (Konsultan Satelit Dewantara Kemendik, Konsultan Satelit HBS dan Satria 2 BAKTI/Menkominfo).
  • Bisnis dan Teknologi telekomunikasi satelit merupakan bisnis dan teknologi tinggi yang kompleks dan banyak risiko, semua aspek pengelolaan kegiatan ada di dalamnya, dengan mempelajari dan menguasai filsafat ilmu didalamnya, maka dapat diterapkan pada jenis- jenis bisnis dibidang lain, saya pernah menjadi konsultan di perusahaan perusahaan yang non telekomunikasi a.l. ANTAM, BULOG, dan REKAYASA INDUSTRI, beruntunglah kita yang pernah bekerja di bidang Telekomunikasi Satelit karena filsafat filsafatnya dapat digunakan untuk pembangunan dibidang lain.

 

Bambang Setiawan, Mantan Kadivnet PT Telkom (Saat ini Konsultan Satelit HBS dan SATRIA 2 BAKTI/Kemenkominfo)

 

 

Testomoni #5

Selamat atas peluncuran buku Merajut Angkasa Mendobrak Kemapanan Menuju Indonesia Maju. Tidak disangsikan lagi bahwa dengan pengalaman 45 tahun sejak 1976 era Palapa A1 sampai sekarang insan pengelola satelit Telkom menunjukkan kemampuannya dan berkontribusi aktif memajukan pembangunan NKRI khususnya bidang telekomunikasi. Semoga buku ini menjadi inspirasi generasi muda Telkomsat untuk tetap maju dan inovatif serta tidak melupakan sejarah SKSD yang telah dirintis para pendahulu kita.

 Dodiet Hendrojono, Former PT MITRATEL CEO

 

 Testomoni #6

Patrakom didirikan pada bulan September tahun 1995, berawal dari adanya peluang untuk memenuhi kebutuhan layanan yang spesifik dan beragam dalam menunjang operasi pada industri perminyakan dari hulu sampai hilir.

Turbulensi ekonomi di Indonesia pada tahun 1997/1998 mendorong untuk mencari peluang di luar pasar pada industri perminyakan antara lain SISKOHAT (Depag), cetak jarak jauh (Gramedia Group) dsb nya.

Alhamdulillah Patrakom dapat melalui masa-masa sulit tersebut di umur perusahaan yang baru 2 tahunan, itu semua merupakan hasil kerja keras dan soliditas karyawan bersama manajemen.

 

Kuncinya adalah “Kecepatan dalam mengeksekusi peluang dan menjaga kualitas layanan yang berkelanjutan.”

 

Budi Prasetyo (BP), Dirut Pertama PT Patrakom (Periode 1995 – 2000)

 

 

Testomoni #7

Kenangan yang tak terlupakaan saat bergabung di Patrakom

Suatu hari awal bulan Oktober tahun 2000 saat itu kira-kira jam 9 pagi saya dipanggil Direktur Utama PT Indosat dan ditemani oleh Direktur Operasi yang intinya kemudian menugaskan saya untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) PT Patrakom. Pada saat itu saya bertanya dalam hati dan berprasangka baik mengapa saya diminta mengikuti RUPS oleh Dirut dan diminta memakai jas segala, ada apa ini. Akhirnya kami bertiga Saya, Pak Tampubolon dan Pak Endang Irsal berangkat ke hotel Hyat Duta dikawasan Tugu Tani Menteng. RUPS Patrakom dihadiri oleh wakil pemegang saham dari PT Telkom, PT Indosat, PT Elnusa dan PT Tanjung Mustika. Setelah RUPS dibuka ternyata ada agenda pergantian direksi Patrakom, yakni agenda pergantian Direktur Utama dan Direktur Operasi Pelayanan. RUPS menyetujui pergantian Direktur Utama dari Pak Budi Prasetyo kepada Pak Hudiyarto dan rapat menyetujui pergantian Direktur Operasi Pelayanan dari Pak Gunoto kepada saya (M. Amin Djohar). Pak Gunoto merupakan senior saya di PT Indosat. Akhirnya RUPS menetapkan dan menyetujui direksi baru Patrakom sebagai berikut: Direktur Utama Hudiyarto, Direktur Pengembangan Nyoman Punia, Direktur Keuangan Paulus Tjahjono dan Direktur Operasi dan Pelayanan M. Amin Djohar.

 

Tanggung jawab yang ditugaskan kepada saya adalah untuk mengkoordinasikan operasional peralatan VSAT perusahaan, pemeliharaan peralatan dan pelayanan kepada para pelanggan Patrakom. Pada saat itu Patrakom sebagai penyedia jasa VSAT  mempunyai 3 services andalan ke pelanggan yaitu Patrashare, Patranet dan Patralink. Jasa Patrashare digunakan untuk melayani pelanggan Pertamina untuk seluruh wilayah Indonesia dari Aceh sampai Papua dan juga perusahaan oil company yang mempunyai pengeboran di tengah hutan atau lepas pantai (rig offshore) serta perusahaan yang mengelola perkebunan sawit dan lainnya. Patranet digunakan untuk melayani perbankan seperti BPD Jabar dan Siskohat (Sistem Komunikasi Haji Terpadu), sedangkan Patralink digunakan untuk melayani komunikasi point to point perusahaan antara kantor pusat dan kantor cabang, dan jasa Patralink ini juga banyak digunakan untuk perbankan maupun perusahaan lainnya seperti operator telekomunikasi (Telkomsel) dan perusahaan lainnya.

 

Dalam melakukan day to day operational banyak sekali pengalaman yang diperoleh dalam menangani masalah gangguan operasional, peralatan maupun pelayanan terhadap para pelanggan khususnya pada saat peralatan tidak dapat beroperasi secara baik maupun peralatannya tidak dapat beroperasi alias putus (outage). Untuk menanggulangi masalah operasional, staf operasional telah diberikan pelatihan yang memadai dan juga bersertifikasi. Karena banyak sekali Rig Offshore yang membutuhkan penanganan gangguan yang cepat dan tepat. Sehingga dalam hal ini membutuhkan personal yang terampil dan berpengalaman. Dengan dibantu oleh personal dari Kopatra (Koperasi Patrakom) yang telah diberikan pelatihan secara intensif oleh staf Patrakom yang berpengalaman sehingga personel Kopatra dapat menjadi terampil dalam mengoperasikan peralatan bahkan melakukan troubleshooting. Dengan melakukan kerjasama yang baik antara personel Patrakom dan Kopatra maka segala masalah yang ada di dalam operasional peralatan, gangguan dan keluhan pelanggan dapat diatasi dengan baik.

 

Bila dilihat dari ketersediaan Sumber Daya Manusia pada saat itu dengan mayoritas staf yang masih muda yang terdiri para engineer dan teknisi yang cakap dan trampil maka Patrakom mampu bersaing dengan perusahaan penyelenggara VSAT lainnya seperti CSM, Lintas Artha dll. Sehingga perusahaan bisa mendapatkan pelanggan baru ataupun dapat mempertahankan pelanggan eksisting sehingga menjadikan perusahaan tumbuh dengan baik.

Bila dilihat dari sisi perkembangan perusahaan pada saat saya bergabung di Patrakom dari Oktober 2000 sampai dengan April 2003,  Alhamdulillah perusahaan tumbuh cukup baik, apabila dilihat dari laporan keuangan tahun 2000, 2001 dan 2002 terlihat bahwa revenue dan laba bersih naik secara significan. Sehingga cukup membahagiakan yang menjadikan para karyawan Patrakom saat itu mendapatkan bonus yang cukup berarti.

Akhirnya pada bulan April 2003 saya harus pamit dari Patrakom karena penugasan lain oleh PT Indosat. Tentunya saya sangat berterima kasih kepada teman-teman Patrakom dari staf sampai General Manager yang telah membantu dalam melakukan day to day operasional maupun yang lainnya, yang tidak bisa saya lupakan.

Namun setelah dua tahun saya balik ke Indosat, saat itu Telkom berencana untuk membeli seluruh saham Patrakom dari para pemegang saham lainnya di Patrakom. Keputusan manajemen Telkom pada saat itu menurut saya adalah keputusan yang sangat tepat dan strategis untuk pengembangan bisnis Telkom dimasa mendatang yang berbasis satelit. Karena Telkom adalah salah satu perusahaan BUMN yang paling siap dan lengkap dari hulu ke hilir prasarananya, seperti punya satelit sendiri (bandwidth), jaringannya, peralatannya, ground segmen nya, propertinya, expertnya, pengalaman dan dukungan lainnya, yang semuanya merupakan keunggulan Telkom dalam bisnis satelit. Dimana sampai saat ini bisnis satelit masih memberikan margin positif yang sangat significan kepada perusahaan.

 

Setelah Telkom menguasai saham Patrakom secara keseluruhan (100%), dengan demikian Telkom mempunyai dua anak perusahaan yang berbisnis jasa yang berbasis satelit yaitu Metrasat dan Patrakom. Sehingga masing-masing anak perusahaan tersebut bersaing untuk mendapatkan revenue dalam memajukan dan mengembangkan perusahaan tersebut, walaupun pangsa pasarnya berbeda dimana Patrakom diutamakan untuk melayani pasar area perkebunan, Rig Offshore, kehutanan dan perusahaan existing yang telah menjadi pelanggannya.

 

Keputusan manajemen Telkom untuk menyatukan (merger) antara Metrasat dan Patrakom menjadi Telkomsat adalah keputusan yang tepat dan strategis karena dalam hal ini dapat mengoptimalkan kelebihan dan kelemahan ke-dua anak perushaan tersebut dalam hal diantaranya peralatan produksi, penghematan bandwidth, pemanfaatan ground segmen, mengurangi biaya operasional, optimalisasi karyawan, dan sinergi karyawannya dalam memenangkan persaingan di dalam bisnis jasa yang berbasis satelit.

 

Harapan saya ke depan adalah bahwa Telkomsat dapat berkembang pesat, maju dan dapat memenangkan persaingan bisnis jasa yang berbasis satelit, serta dapat berkiprah dalam persaingan global (regional maupun internasional). Semoga Allah Subhanahu Wata-ala meridhoi usaha yang dilakukan sehingga Telkomsat (bagian dari Telkom group) dapat memberikan sumbangan deviden yang besar untuk Negara. Aamiiin

 

Sekali lagi selamat buat teman-teman Patrakom, karena anda semua sekarang bergabung menjadi karyawan Telkomsat yang merupakan bagian dari perusahaan BUMN PT. Telkom (Telkom Group).

 

Akhirnya saya mohon maaf yang sebesar-sebesarnya atas kesalahan dan kehilafan kepada teman-teman semua pada saat saya bergabung dengan Patrakom, dan juga mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan testimoni ini. Terima kasih

 

  1. Amin Djohar, Direktur Operasi dan Pelayanan PT Patrakom (Periode Oktober 2000- April 2003)

 

 

Testomoni #8

 

Kesaksian di Patrakom

Pada tanggal 30 September 2013, saya memperoleh amanah baru untuk menjadi nahkoda Patrakom, suatu anak perusahaan Telkom yang sering saya lihat namanya saat mempersiapkan Laporan Keuangan Telkom karena Patrakom salah satu anak perusahaan Telkom namun tidak terkonsolidasi sebelumnya karena kepemilikan Telkom di bawah 51% sebelum 30 September 2013. Suatu kebiasaan saya saat ditugaskan di anak perusahaan selalu yang pertama saya pelajari adalah Anggaran Dasar dan Laporan Keuangan Audited beberapa tahun sebelumnya untuk mengetahui kinerja keuangannya yang merupakan muara dari kinerja operasinya.

 

Mengawali tugas saya di Patrakom banyak hal yang harus segera dibenahi dan melakukan inisatif program dalam rangka perbaikan dan pencapaian kinerja perusahaan. Diantaranya harus segera membenahi kondisi keuangan perusahaan yang sedang tidak baik dan karena menjelang Laporan Keuangan Akhir Tahun Telkom 2013, Laporan Keuangan Patrakom harus sudah terkonsolidasi.

 

Melihat perjalanan usia perusahaan saat itu sudah mencapai 18 tahun, pendapatan usaha yang didapat pada beberapa tahun sebelumnya hanya berkisar diangka seratus milyaran, menunjukkan bahwa perusahaan ini termasuk perusahaan yang tidak berkembang sehingga perlu dilakukan perombakan besar-besaran di semua aspek, dari sisi perangkat, banyak yang sudah out of date, dari sisi SDM jarang dilakukan pelatihan, dalam pengelolaan keuangan terlihat bahwa kurang focus pada pencairan piutang yang cukup besar, sistem-sitem yang ada kurang memberikan daya dorong agar perusahaan dapat berkembang lebih cepat.

 

Memasuki tahun 2014, seluruh karyawan dan manajemen bertekad untuk meraih pendapatan usaha 1 Trilyun pada 2016, banyak hal yang harus dilakukan di semua aspek, di bidang operasi, penggantian peralatan-peralatan baru terutama untuk penjualan menggunakan teknologi terkini sehingga sesuai kebutuhan pelanggan, juga sinergi dengan anak perusahaan Telkom lainnya, Telkomsel banyak mengembangkan layanan terutama di Indonesia Timur, di bidang pemasaran, memperbaiki sistem insentif pemasaran yang lebih progresif dengan banyak produk kreatif terutama memperkuat bisnis Oil, Gas, Maritim, mengacu pada tag line Menjangkau Seluruh Pelosok Negeri dengan layanan untuk lokasi 3 T (Terluar, Terpinggir dan Terpencil), di bidang SDM dilakukan pembenahan sistem remunerasi yang lebih baik, mulai ada anggaran pelatihan yang selama ini tidak ada untuk seluruh pegawai, dalam bidang Keuangan, mengalihkan pinjaman dari Bukopin ke BRI yang berdampak jumlah pinjaman lebih besar untuk kebutuhan investasi dan bunga lebih rendah karena back up dari Telkom, menggunakan SAP dalam sistem akuntansi dan pelaporan keuangan, memperbaiki struktur modal dan hutang dengan Debt to Equity Swap, pendanaan pengadaan perangkat dengan cara cicilan ke vendor, meningkatkan kualitas pelanggan, dengan hanya menjual ke pelanggan yang taat membayar layanan, menyelesaikan hutang-hutang ke vendor untuk menjaga hubungan yang baik, me-reschedul hutang ke Telkom dan membayar dengan tepat waktu, sehingga pada akhir 2014 Laporan Rugi Laba Patrakom 2014 menunjukkan perbaikan yang signifikan. Pendapatan Usaha tumbuh 62% dibanding tahun 2013, Laba Bersih juga menunjukkan angka positif, meningkat 110% meski perusahaan telah banyak melakukan pembenahan-pembenahan pada sektor Piutang Usaha dan Kewajiban yang ternyata jumlahnya belum ada kepastian dan pada 2014 juga dilakukan Restatement atas LK Audited 2013.

 

Pada Februari 2015, saya harus meninggalkan Patrakom karena pensiun, saya dengan BOD lainnya sempat menyampaikan proposal kepada Dirut Metra saat itu bahwa bisnis satelit akan menjadi kontributor utama bagi bisnis Telkom bila semua unit bisnis yang terkait dengan satelit dijadikan satu, dengan Patrakom sebagai vehicle nya, Divisi Metrasat di PT Metra juga menggeluti bisnis satelit dan Telkom mengelola bisnis satelit dalam penyewaan transponder, sehingga apabila disatukan maka bisnis yang dikelola adalah bisnis satelit yang lengkap (ground segmen dan space segmen), sehingga operasional lebih efisien dan harga layanan juga sangat bersaing.

 

Gatut Awantoro, Dirut Patrakom (Periode 30 September 2013 – Februari 2015)

 

 

Testomoni #9

 

SATELIT KU ; SAWAH KU

 

Sekilas Kenangan

 

Era awal terjun ke dunia jaringan terutama berbasis satelit, terasa gamang menjalaninya. Bagaimana tidak; saat itu gaung jaringan berbasis optik kencang berhembus. Dengan kapasitas badwidth, kecepatan dan kemudahan akses sukses mendulang banyak pelanggan sekaligus margin yang baik. Sehingga management dan all unit serempak focus menekuni mainan baru tersebut dengan menggelar layanan di banyak area sekaligus mengganti kabel tembaga yang sudah renta dan capek berproduksi. Masih ingat betapa sulitnya mengawal layanan berbasis kabel tembaga terutama jaman jahiliyah dengan maraknya calo maupun oknum internal yang menumpang hidup sehingga sulit sekali pendataan teknis maupun pelanggan melalui beberapa komputerisasi seperti Siskamaya (Sistem Administrasi Kabel dan Manajemen Pelayanan) sampai akhirnya Dadad Kustiwa (ex DIROPSAR) sukses menerapkan SISKA (Sistem Informasi Kastemer) yang komplit mengelola modul TCF (Technical, Commercial, Finance) sehingga merupakan dimulainya era pelayanan Telkom karena dari front office (service point) bisa tersambung langsung ke back office (sentral telepon) maupun unit finansial (internal maupun mitra/Bank).

 

Disisi lain, dengan digelarnya banyak area jaringan optik sempat menjadikan ciut pemikiran terhadap kelangsungan bisnis jaringan Satelit. Mirip saat pertama kali muncul layanan televisi yang merontokkan bisnis Radio. Banyak Radio pemerintah maupun swasta yang ditinggal pendengar setianya, beralih nonton TV.  Apakah jaringan Satelit akan tergantikan dengan digelarnya optikisasi ?

 

Apalagi saat itu, Telkom sudah mempunyai 2 anak perusahaan berbasis satelit yakni Metrasat dan Patrakom. Sehingga management pun sempat berulang kali evaluasi kiprah bisnis satelit tersebut. Berkali-kali dalam Rapim Telkom disampaikan bahwa 2 anak perusahaan satelit tersebut masih menyumbang margin positip, bahkan Patrakom mampu double digit growth tiap tahunnya, meskipun dengan angka real pendapatan yang masih kecil. Ternyata, bisnis Radio masih eksis saat ini meskipun ada televisi; karena segmen pelanggan nya yang berbeda.

 

Akhirnya management Telkom putuskan untuk menjadikan Patrakom 100% Telkom dengan pengaturan area layanan antara Metrasat dan Patrakom, dimana Patrakom lebih mensupport area perkebunan, kehutanan, laut dan beberapa industri existing. Karena saat itu karyawan Patrakom telah teruji dengan baik melayani pelanggan di pelosok hutan Kalimantan, Irian Jaya (memanggul perangkat satelit menyusuri rawa-rawa; menginap berhari-hari di hutan angker) ataupun dipengeboran minyak tengah lautan yang harus dibekali sertifikat dan nyali yang baik.

Masih teringat saat karyawan/teknisi Patrakom ikut pengamanan wawasan Nasional dengan memasang perangkat komunikasi satelit di 7 pulau terluar Nusantara (tahap 1) dan sampai 11 pulau (tahap 2); merupakan catatan unggulan nyali karyawan/teknisi yang melaksanakan dan sekaligus merupakan komitmen perusahaan negara karena proyek ini bukan ladang bisnis tapi hanya rasa naionalis. Para teknisi hanya bisa berangkat bersama kapal Patroli TNI yang mampir ke pulau-pulau luar tersebut, dan di drop bersama perangkat satelit yang dipasangnya seorang diri. Setelah selesai instalasi jika tanpa gangguan para teknisi baru bisa pulang, namun menunggu kapal patroli yang bisa seminggu atau dua minggu baru ke pulau tersebut. Praktis para teknisi hidup terasing di pulau terluar yang kadang tidak berpenghuni dengan deburan ombak besar karena berbatasan dengan laut lepas.

 

Dengan melihat trend bisnis satelit yang tetap positip, yakin bahwa jaringan berbasis satelit tetap bisa diandalkan terutama dengan kondisi geografis wilayah Indonesia dan sekaligus menjadi tumpuan saat terjadi gangguan jaringan nasional. Beberapa kali jaringan Satelit menggantikan fungsi backbone transmisi kabel laut yang putus, dan dalam kondisi darurat tersebut jaringan Satelit mudah mengambil alih peran sementara jaringan nasional.

 

Sebagai apresiasi dan kebanggaan adalah saat merasakan jaringan Telkom group tak pernah hilang sinyal baik saat ditengah laut maupun di gunung-gunung Indonesia timur. Dan bisnis tracking kapal laut sangat tepat menggunakan jaringan Satelit, baik untuk pengamanan kapal ataupun keperluan layanan komersial.

 

Namun kendala operasional yang masih dirasakan adalah minimnya alat produksi (satelit) dan persaingan bisnis layanan jaringan satelit. Kapasitas satelit Palapa sudah dedicated full booked, sehingga kita harus berjibaku mencari bandwith satelit asing yang tersedia untuk menambah pelanggan. Sedang di sisi ground segmen terkadang sengketa lahan menjadi kendala yang masih lekat adat dan budaya daerah tersebut.

 

Menyatunya Metrasat dan Patrakom menjadi Telkomsat adalah upaya baik untuk menetralisir masing-masing kelemahan perusahaan baik dari sisi ketersediaan alat produksi, sinergi karyawan maupun upaya memenangkan persaingan di layanan satelit. terutama operational cost dengan pengaturan pemakaian bandwith bisa dihemat, disisi ground segmen dengan pemanfaatan bersama sekaligus optimalisasi karyawan

 

 

Harapan dan Pesan

 

Selama ini sudah terbukti bahwa sebagai anak perusahaan, bidang satelit masih memberikan margin positip sedang di anak perusahaan lain ada yang berkali-kali negatip, sehingga bisnis satelit masih menjadi tumpuan Telkom mendatang, dan pertumbuhan tersebut merupakan effort dan dedikasi seluruh karyawan yang terlibat sehingga wajar jika diperhitungkan apresiasi perusahaan kepada mereka semuanya.

 

Hal utama yang menjadikan unggulnya pribadi atau perusahaan adalah terbebasnya diri dari beberapa kondisi yakni kudis (kurang disiplin) kebiasaan menganggap remeh sesuatu sehingga mengabaikan SOP (standard operating procedure), kurap (kurang rapi) yang bekerja serampangan sehingga menyulitkan unit lain ataupun pelanggan, kutil (kurang teliti) banyak melakukan kesalahan karena tidak melakukan persiapan yang baik ataupun tidak melakukan check and re-check setiap melakukan aktifitas.

 

Obat penyakit tersebut hanyalah salepin (saling emphati dan intropeksi) sehingga mendorong individu ataupun perusahaan bisa sinergi dan meningkatkan produksi. Mulai dari individu karyawan sampai management harus intropeksi dan menempatkan posisi masing-masing dengan legowo (ikhlas) tidak saling iri dan curiga.

 

Mudah-mudahan Allah swt. merestui upaya kita menjadikan Telkomsat Jaya, selamanya.  Aamiin.

 

Mastop, Direktur Operasi Patrakom (2013-2016)

 

 

Testomoni #10

 

Sebagai seorang jurnalis, tentunya saya sangat sering berkeliling Indonesia hingga wilayah terpencil diberbagai pelosok tanah air untuk keperluan sebuah peliputan.

 

Dimata saya Indonesia sangat luas dari Sabang hingga Merauke maupun dari Miangas hingga Pulau Rote dengan ribuan gugusan pulau yang tersebar.

 

Dengan sangat luasnya wilayah Indonesia, di era digital dan keterbukaan informasi, Indonesia tentunya sangat membutuhkan layanan satelit dan koneksi jaringan internet yang memadai yang tentunya dapat difasilitasi oleh Telkomsat.

 

Dengan hadirnya buku ini, masyarakat diharapkan lebih teredukasi dan bisa mendapatkan informasi yang lengkap dari A hingga Z terkait apapun tentang Telkomsat.

 

Perlahan namun pasti dengan tersebarnya buku ini ditengah-tengah masyarakat, brand image Telkomsat sebagai penyedia jasa layanan satelit akan tertancap kuat di benak masyarakat Indonesia.

 

Bayu Koosyadi, Jurnalis

 

 

 

Testomoni #11

Buku ini menjabarkan secara jelas mengenai sejarah panjang terbentuknya Telkomsat yang dari 3 entitas berbeda. Menularkan semangat perjuangan, falsafah, dan visi-misi para founding father yang diharapkan dapat menjadi “Legacy” yang sangat baik untuk perkembangan Telkomsat ke depan menjadi perusahaan satelit terkemuka di regional dalam mewujudkan “Indonesia Maju”.

 

Ali Rusli, Pengamat Satelit dan Mantan VP Metrasat

 

Testomoni #12

Selamat dan sukses atas “launching ” buku “Merajut Angkasa Mendobrak Kemapanan Untuk Indonesia Maju”,  sebuah buku yang jarang ditemukan dan sangat unik, menceritakan perjalanan panjang, perjuangan maupun prestasi yang diraih dari Telkomsat yang dapat dijadikan “Legacy” dan tuntunan , panutan bagi masyarakat.  Semoga buku ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia Maju.

 

Prof. Dr. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU

Praktisi, Guru Besar ilmu Manajemen , Pengelola Universitas Trilogi Jakarta

 

Link Pilihan:

 

Artikel Terbaru

13 February 2021

Cara membuat ebook dari Ms Word Doc sangatlah...

03 February 2021

Untuk mengetahui pentingnya membangun personal...

18 January 2021

Cara mudah koreksi kesalahan kata (typo dan kata...

13 January 2021

Cara-cara memasarkan buku melalui internet yang...

12 January 2021

Perlu diketahui bahwa keuntungan bagi yang hobi...

19 July 2020

Kebuntuan ide atau yang sering disebut...

15 July 2020

Bahwa menulis semakin menguntungkan bukan lagi...

06 July 2020

Penulis kini menjadi profesi yang semakin...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?