“Di zaman sekarang dengan informasi berkelebat cepat, membaca detail-detail tulisan Iqbal rasanya seperti diingatkan akan hal-hal sederhana yang membahagiakan; keutamaan bangun pagi, perasaan cinta ibu pada anaknya, kebiasaan membaca dan perpustakaan, persahabatan yang indah, hingga perihal masa depan: harapan-harapan baik yang muncul pada kata “pernikahan”. Seperti biasa, tulisan-tulisan Iqbal selain begitu nostalgic, juga menghangatkan hati.”
(Desi Puspitasari, penulis)
“Surat-surat itu seolah ditujukan untuk siapapun yang membacanya. Interaktif dan mencerahkan.”
(Sari Yulianti, penulis buku Surga Di Telapak Kaki Ayah)







