Buku Sejarah: Pemikiran Hoesin Bafagieh by Nabiel A.Karim Hayaze’

Sejarah telah membuktikan bahwa jejak perjuangan bangsa

Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari perjuangan Islam. Karena

Indonesia dan Islam adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Islamlah

yang menjadi pegas yang mendorong bangsa Indonesia untuk

bergerak maju untuk berjuang mengusir penjajah dan meraih

kemerdekaan. Dengan pekikan “Allahu Akbar” bangsa Indonesia

mampu melepaskan diri dari belenggu penjajah dan menjadi

bangsa yang merdeka.

Dan di dalam perjuangan tersebut, terdapat barisan pejuang

Islam berdarah Arab yang mencintai negeri ini sepenuh hati,

meneteskan darahnya demi mencapai kemerdekaan, seperti yang

disebutkan oleh Prof. Wertheim dalam Indonesian Society in Transition

bahwa “ulama-ulama Arab merupakan the fiercest Company’s enemies…”

atau “ulama-ulama Arab merupakan lawan penjajah kolonial yang

paling gigih”, diantaranya ada Imam Bonjol (Muhammad Shahab),

Raden Saleh (Saleh bin Yahya) dan masih banyak lagi yang tidak

bisa disebutkan satu persatu.

Nafas semangat perjuangan itu tidak pernah berhenti dalam

satu momen dan titik tertentu, terus berkobar ketika bangsa ini

membutuhkannya, hingga dilanjutkan oleh sekelompok pemuda

Keturunan Arab pada tahun 1934 di Semarang dengan melakukan

Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang kemudian disebut dan

diperingati sebagai hari Kesadaran Bangsa Arab, hingga akhirnya

menjadi Partai Arab Indonesia (PAI) yang dimotori oleh AR.

Baswedan, yang dengan tegar dan lantang mengatakan bahwa

tanah air Keturunan Arab adalah Indonesia. Titik! Tidak peduli

Belanda mengatakan apa dan tidak peduli siapapun mengatakan

yang sebaliknya. Dan sebagai konsekuensinya, Keturunan Arab

harus memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa

Indonesia.

Sumpah tersebut merupakan sebuah langkah yang revolusioner,

bukan hanya bagi keturunan Arab, tetapi bagi seluruh bangsa

Indonesia seluruhnya. Hingga kemudian Ki Hajar Dewantara

menyebutkan arti sumpah tersebut dalam sambutannya atas Peringatan

Hari Kesadaran Bangsa Indonesia keturunan Arab yang ke-

20 di Solo : “…keikhlasan saudara-saudara keturunan Arab tadi tidak saja

menguntungkan diri mereka sendiri, namun menguntungkan negara kita

pula, sebagai negara yang Modern dan berdasarkan Pancasila”.

Sayangnya penulisan sejarah dan studi mengenai peran Keturunan

Arab, termasuk di dalamnya peran perjuangan PAI dalam

pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia masih sangat kering

dan banyak tidak diketahui oleh masyarakat umum. Perjuangan

mereka tidak pernah tertulis di buku sejarah bangsa, tokohtokohnya

tidak dikenal oleh generasi muda. Alhamdulillah sudah

ada beberapa buku yang menulis sang tokoh pendirinya, yaitu AR.

Baswedan. Tetapi dan sayangnya, tokoh-tokoh keturunan Arab

lainnya yang terjun aktif dalam perjuangannya di dalam PAI bersama

AR. Baswedan, sampai detik ini, masih banyak yang “terkubur”

dalam sejarah dan tidak dikenal oleh khalayak umum. Baswedan

dalam salah satu wawancaranya mengatakan bahwa :

“Saya anggap usaha ini berhasil (usaha PAI, ed) bukan karena diri

saya sendiri, tetapi betul-betul karena dibantu oleh banyak kawan-kawan

yang tidak bisa saya hitung satu persatu karena bisa melupakan yang lain,

barangkali akan saya sebut satu persatu insya Allah “1

1 ANRI, Proyek Sejarah Lisan Arsip Nasional Republik Indonesia, Pertemuan Ke-13

tanggal 22 Agustus 1975.

Dan salah satu kawan yang dimaksudkan adalah Hoesin

Bafagieh, seorang pendukung loyal dan sahabat seperjuangan

AR. Baswedan dalam PAI, tokoh pemersatu keturunan Arab,

seorang tokoh pers nasional dengan majalah terbitannya, Aliran

Baroe yang aktif menyebarkan faham PAI ke seluruh pelosok

Indonesia, mengguncangkan masyarakat kaum Keturunan Arab

Indonesia untuk bangun dari tidurnya, membangkitkan kesadaran

berbangsa Indonesia diantara keturunan Arab. Seorang tokoh

pendorong emansipasi awal wanita dikalangan keturunan Arab

serta penganjur pembauran total golongan keturunan Arab di

masyarakat Indonesia. Seorang reformis Islam dan nasionalis sejati.

Untuk mengisi ruang sejarah yang kosong tersebut, maka

disusunlah buku ini yang berisikan kumpulan tulisan Hoesin

Bafagieh, yang merupakan bagian dari usaha penyusun untuk

menolak lupa atas sejarah bangsa, mengenalkan kembali sosok

Hoesin Bafagieh ke dalam kehidupan saat ini dan memberikan

tempat yang selayaknya bagi Hoesin Bafagieh dalam catatan sejarah

bangsa Indonesia. Dan pada hakikatnya, setiap fakta dan peristiwa

yang terjadi dalam kehidupan manusia dan masyarakat, tidak akan

pernah menjadi sebuah “sejarah”, kecuali kita mau menulisnya.

Penyusun sangat yakin bahwa sejarah pergerakan keturunan Arab

termasuk dengan PAI-nya bukanlah hanya sejarah milik keturunan

Arab, melainkan sebuah bagian dari sejarah pembentukan bangsa

Indonesia (nation building) dan milik bangsa Indonesia seluruhnya.

Sehingga hal itu sangatlah layak dan penting untuk dituliskan.

Buku ini menggunakan sumber-sumber primer yang memuat

tulisan-tulisan dari Hoesin Bafagieh yang tersebar di beberapa

majalah yang antara lain:

  1. INSAF : Terbitan berkala bulanan dari Januari 1937 sampaiAgustus 1941
  2. Aliran Baroe : Terbitan berkala bulanan yang terbit dari bulanAgustus 1938 sampai dengan November 1941
  3. Buku-buku karya Hoesin Bafagieh

Untuk memudahkan pembaca di dalam memahami karya

karya tulisan tersebut, penyusun telah mengubah ejaan lama yang

ada ke dalam bentuk Ejaan yang Disempurnakan (EYD), tanpa

mengubah susunan kata dan kalimat, sehingga tidak menghilangkan

suasana dan perasaan ketika tulisan tersebut ditulis. Penyusun

juga memberikan “footnote” untuk beberapa istilah, nama orang

dan nama organisasi yang disebutkan di dalam tulisan tersebut,

dengan harapan bisa membantu pembaca untuk mendapatkan

konteks yang lebih lengkap dan lebih jelas. Sedangkan untuk nama

orang dan juga judul majalah, buku atau nama organisasi, ejaan

pertamanya tetap dipertahankan sebagai hak dari pribadi orang

dan organisasi tersebut.

Tulisan-tulisan Hoesin Bafagieh sangatlah beragam dari

mulai tulisan yang berkenaan dengan sepak terjang perjuangan

dan idealisme PAI, yang mengangkat tentang isu emansipasi

wanita, tulisan tentang agama (Islam), kritik sosial masyarakat,

yang berhubungan dengan Nasionalisme atau kebangsaan, hingga

tulisan berupa tonil atau cerita. Dan sekali lagi untuk memudahkan

pembaca di dalam membaca kumpulan tulisan tersebut, penyusun

telah membagi dalam beberapa bagian, yaitu :

1. Seputar PAI

2. Emansipasi Wanita

3. Kritik Sosial

4. Tokoh Bangsa

5. Agama

6. Di mata Sahabatnya

7. Risalah Soal Kekudung

8. Cerita Pendek dan Tonil

Penyusun yakin bahwa masih banyak tulisan-tulisan Hoesin

Bafagieh yang tercecer dan terlewat dari pencarian dan pengamatan

penyusun, hal itu mungkin sebagian merupakan akibat dari

“kebiasaan” kita selama ini yang kurang peduli untuk merawat

dan menyimpan dokumen sejarah. Ini yang selalu menjadi kendala

bagi kita semua di dalam usaha untuk “melawan lupa” di dalam

penulisan sejarah. Selain memang sudah menjadi tabiat dari beberapa

tokoh keturunan Arab yang terlibat langsung di dalam perjuangan

bangsa, sebagai seorang muslim, mereka menolak untuk

bercerita tentang dirinya sendiri ketika diwawancara atau direkam

atau pun menuliskan hasil perjuangan mereka sendiri karena mereka

tidak ingin menjadi orang yang riya’. Mereka berjuang dengan

ikhlas karena mereka yakin bahwa apa yang mereka telah lakukan

adalah sebuah kewajiban sebagai seorang anak bangsa dan sebagai

seorang muslim, tanpa mengharap imbalan apapun.

Dengan membaca tulisan-tulisan tersebut diharapkan kita

semua, generasi penerus bangsa bisa belajar dari pengalaman

sejarah tersebut dan kemudian merefleksikan ke dalam pengabdian

nyata kepada bangsa dan agama. Sehingga kita tidak menjadi

sebuah generasi yang amnesia, yang lupa akan masa lalunya, yang

berjalan menuju ke masa depan tanpa ingatan, tanpa arah tujuan

yang jelas. Membaca itu membangkitkan, insya Allah dengan

membaca buku ini, bisa membangkitkan semangat yang sama atau

bahkan lebih di dalam perjuangan kita semua, demi bangsa, negara

dan agama.

Penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada Ammi

Syakib Husin Bafagih (putra dari alm. Hoesin Bafagieh), yang telah

memberikan dukungan sepenuhnya atas rencana penerbitan buku

ini. Di samping kesibukannya; beliau dengan sabar telah menyempatkan

waktu untuk bertemu dengan penyusun, memberikan

informasi yang diperlukan dan memberikan dukungan sepenuhnya

untuk penerbitan buku ini. Dibutuhkan lebih banyak pribadi

seperti Ammi Syakib Bafagih yang peduli pada penulisan sejarah

perjalanan dan perjuangan bangsa. Sebuah kepedulian yang tidak

hanya sebatas kata-kata tetapi dibuktikan dengan amal perbuatan

riil. Semoga menjadi sebuah amal ibadah yang diridhoi dan diterima

oleh Allah SWT.

Juga ucapan terima kasih kepada sahabat penyusun Dr. Huub

de Jonge; Dr. Zeffry Alkatiri serta Ustadz Hasan Bahanan yang

telah berkenan memberikan pengantar serta masukan-masukan

untuk buku ini.

Terakhir kepada Akhinal Aziz; Abdullah Ali Al-Jufri (Dolli),

seorang sahabat dan teman diskusi yang selama ini bersama-sama

“membangun mimpi”, tanpa dorongannya buku ini tidak akan

pernah selesai.

Kepada mereka semua : Jazakumullah khoyron jaza’.

Penyusun

Nabiel A.Karim Hayaze’

Link Pilihan:

Artikel Terbaru

10 November 2025

Halo, teman-teman semuanya. Sedang merasa...

03 August 2025

Pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah fondasi. Cara...

17 July 2025

Apa jadinya jika hidup kita terus-menerus berubah...

02 March 2025

Pernahkan pada suatu moment, kalian mengatakan...

01 March 2025

Kesepian bukan sekadar perasaan melankolis yang...

28 February 2025

Manusia adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan...

26 February 2025

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Aman...

26 February 2025

Menemukan orang yang tulus itu sulit. Sama...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?