Ada saatnya dalam hidup, kita harus memutuskan, apakah kita akan terus berjalan atau berhenti dan menyerah. Terkadang, pada titik tertentu, menyerah menjadi pilihan terbaik. Jika kita telah berjuang penuh dengan sesuatu dalam hidup, baik itu tujuan, hubungan, pekerjaan, atau bisnis dalam waktu yang tidak sedikit dan kita tidak melihat tanda-tanda perbaikan, mungkin sudah waktunya untuk “membuka tangan dan melepaskan”.
Para motivator mengatakan bahwa kita tidak boleh menyerah ketika menghadapi sesuatu yang menyulitkan kita. Memang benar bahwa kita tidak boleh menyerah terlalu cepat setelah mengalami kegagalan dalam mengejar sesuatu. Ketekunan adalah kunci kesuksesan. Mencoba secara maksimal dan menghabiskan keterampilan, sumber daya kita, maka kita akan mencapai kemenangan dan memenuhi tujuan kita. Namun, kegigihan terkadang membuat kita sebaliknya dan membuat kita menderita jika kita terus melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan kita lagi.
Berhenti mungkin tampak seperti tindakan pengecut bagi orang-orang, tetapi terkadang, itu adalah pilihan yang lebih baik daripada terus berjuang untuk sesuatu yang hanya memengaruhi kesehatan mental kita.
Perhatikan beberapa situasi berikut:
- Tetap pada pekerjaan yang hanya membuat kita merasa sengsara karena pekerjaan itu tidak menarik dan di luar kemampuan, kita memiliki bos atau rekan kerja yang beracun dan selalu menyerang, kita bertahan hanya karena uang yang tidak seberapa.
- Berpegang teguh pada sebuah hubungan di mana hanya satu pihak yang tertarik pada yang lain, dan permusuhan sudah terjadi. Ada perselingkuhan cinta dan hubungan antara kalian berdua.
- Mengejar tujuan, tetapi kita tidak lagi senang dengan prosesnya. Satu-satunya alasan kita melanjutkan adalah karena kita telah mengerahkan banyak upaya dan menggunakan sumber daya untuk berharap bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi pada akhirnya, yang tidak dijamin.
- Terus melakukan sesuatu hanya karena kita takut orang lain akan mengkritik kita.
Tantangannya di sini adalah kita harus menyadari situasi kita saat ini dan memutuskan apakah akan melanjutkan atau tidak. Orang lain mungkin dapat menunjukkan kenyataan untuk kita, tetapi mereka mungkin tidak memiliki pemahaman penuh tentang apa yang terjadi di dalam kepala kita.
Oleh karena itu, kenali tanda-tanda yang bisa menjadi alasan mengapa kita harus berhenti.
Di antaranya adalah …
1. JAUH DI LUBUK HATI, KITA TAHU ITU TIDAK AKAN BERHASIL
Terkadang, kita harus mepercayai firasat bahwa apa yang kita kejar selama ini, rasanya tidak akan pernah membuahkan hasil. Salah satu contohnya adalah mengerjakan proyek di luar kemampuan tetapi tetap disuruh mengerjakannya karena mereka akan memberikan imbalan yang besar. Atau dengan bertahan dalam suatu hubungan di mana pihak lain menuntut kita sesuai dengan harapan, tetapi kita tidak bertindak dan berpikir seperti yang dia inginkan. Sebaliknya, dia juga tidak seperti yang kita inginkan? Kita harus mempertimbangkan apakah masih masuk akal untuk melanjutkan “demi itu,” ketika kita terus mengalami kegagalan bahkan setelah menghabiskan semuanya. Ketika hati dan pikiranmu mulai mengetukmu hingga rasanya sia-sia untuk melanjutkan, itu tandanya kita harus melepaskan dan mulai bergerak menuju sesuatu yang lain.
2. KITA TIDAK SENANG LAGI DENGAN PROSESNYA
Tujuan dan impian yang luar biasa, memberi kita arah dalam hidup. Kita biasanya mengasosiasikan beberapa bentuk kebahagiaan yang bisa kita capai setelah memenuhi impian kita. Namun, hal-hal ini dapat memakan waktu untuk dicapai, dan jika kita hanya bertaruh pada kegembiraan kita di masa depan, ada kemungkinan kita akan kelelahan saat mengerjakan banyak hal untuk mencapai apa yang kita inginkan.
Butuh waktu bertahun-tahun sebelum kita mencapai tujuan. Bahkan ada kemungkinan kita tidak akan mencapai target. Oleh karena itu, sangat penting bahwa kita senang dengan apa yang kita lakukan untuk memenuhi impian. Kita menikmati prosesnya, dari hari ke hari, dari kecil dan terus tumbuh. Namun, jika setiap hari bangun terasa seperti kerja keras untuk dilalui saat mengerjakan tujuan dan kita merasa sengsara, semakin hari kian berat, mungkin itu sudah tidak layak untuk kita lagi. Mungkin sudah saatnya kita mencari ide yang baik untuk mengikuti jalan yang berbeda sebagai gantinya.
3. KITA BERPIKIR AKAN MERASA LEGA KETIKA KITA MENYERAH
Saat melewati masa sulit untuk mencapai apa yang kita inginkan, cobalah berpikir sejenak tentang kemungkinan yang akan kita dapatkan jika kita memutuskan untuk menghentikan apa yang sedang kita lakukan. Mari kita gunakan contoh berpegang teguh pada pekerjaan bergaji UMR, dengan fasilitas tambahan dari rekan kerja yang bermusuhan, bos yang kasar, kesulitan dalam kemajuan karir karena politik kantor, dan perjalanan ke tempat kerja yang penuh kemacetan oleh lalu lintas.
Pada saat yang sama, kita memiliki bisnis online sebagai pekerjaan sampingan, tengah tumbuh dengan baik. Kita mungkin memiliki waktu yang sulit untuk memutuskan berhenti dari pekerjaan kita karena bayarannya cukup, tetapi jauh di lubuk hati, kita memiliki perasaan lega yang kita tahu akan kita dapatkan begitu meninggalkan tempat kerja yang tidak bersahabat. Jika kita merasa lebih lega untuk berhenti daripada melanjutkan sesuatu yang hanya membuat kita sengsara, itu pertanda bahwa menyerah akan menjadi pilihan yang lebih baik. Selain itu, jika kita tahu bahwa akan ada peluang yang lebih baik dan baru menunggu kita setelah berhenti dan memiliki opsi cadangan, kita tidak akan rugi total untuk pergi.
Baca juga: Menerbitkan Buku Indie – Paket Hemat Penerbitan Buku Secara Mandiri
4. HIDUP KITA TERASA SENGSARA
Ketika kita merasa sengsara setiap hari demi mencoba untuk berhasil meraih tujuan, bukan hanya kita yang terpengaruh. Kita mungkin mengabaikan bagian lain dari hidup. Misalnya, dalam mengejar impian, kita mungkin gagal menghabiskan waktu bersama keluarga, jadi abai terhadap perkembangan jiwa dan mental anak. Kita mungkin juga lupa untuk istirahat dan berekreasi. Selain itu, kita mungkin lalai berkomunikasi dengan teman atau mengurus prioritas lain.
Sebuah tujuan yang berharga tidak harus menghabiskan seluruh waktu kita dan mengabaikan kesempatan lain. Jika kita menemukan diri dalam situasi seperti ini, kita tahu kapan harus menyerah. Dan itu akan menjadi kepentingan terbaik kita untuk melakukan proyek atau tujuan lain yang tidak akan mengorbankan nilai inti dan waktu berkualitas kita dengan hal-hal lain dalam hidup, seperti orang-orang yang paling berarti dalam hidup kita.
Mengejar impian yang bersifat materi itu penting, tapi membangun keluarga, mengawali pertumbuhan anak-anak, membangun harmonisasi, juga hal yang harus diutamakan.
MENYERAH BISA MENJADI CARA LAIN UNTUK BERGERAK MAJU
Ketika kita telah menghabiskan bertahun-tahun bekerja dan membangun sesuatu, mungkin sulit untuk “mengibarkan bendera putih”. Kita telah menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk mengerjakan sesuatu sampai kita mengidentifikasi diri kita dengan tujuan kita, dan menyerah sama saja dengan membuang sebagian dari diri kita. Namun, akan sia-sia untuk terus mencari sesuatu jika yang kita dapatkan hanyalah rasa sakit dan kesengsaraan.
Menyerah bisa jadi salah dan tindakan pengecut bagi orang lain. Namun, kekeraskepalaan kita pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan mental, dan hasil positif apa pun yang kita dapatkan mungkin tidak cukup untuk mengimbangi kerugian yang akan kita peroleh dalam upaya untuk memenuhi tujuan. Oleh karena itu, penting untuk mengenal diri sendiri, situasi yang dihadapi, dengan sebaik-baiknya, dengan mengetahui jawaban mana yang lebih tepat: berhenti atau terus berjuang.
Sadarilah bahwa, menyerah pada dasarnya tidak berarti kita akan kehilangan segalanya. Sebaliknya, kita mungkin hanya memberi diri kita kesempatan kedua untuk mencoba mengambil jalan berbeda, yang dapat menawarkan kita kepada kepuasan dan kebahagiaan yang lebih jelas.
Jadi, apa yang sedang kalian hadapi? Kamu akan terus maju atau mulai berpikir untuk berhenti? Pertimbangkanlah dengan serius. Doa kami, apapun yang kita hadapi, akan diberi kekuatan dan kemudahan menentukan pilihan sehingga kita bisa mengambil tindakan yang benar, aamiin.
Lihat video artikel ini di youtube:







