Eksplorasi 4 Pulau

APPETIZER
SEBUAH AWAL
Takdir membawa saya untuk bertemu dengan Klub OASE pada sekitar awal tahun 2016 sebagai seorang peneliti yang akan membuat sebuah karya etnografi mengenai Gerakan Pramuka berbasis komunitas homeschooling.
Metode pendekatan yang saya lakukan terhadap Klub OASE salah satunya adalah dengan metode participant observation, di mana saya mengamati komunitas yang saya teliti langsung dengan terlibat aktif di dalamnya. Tak disangka, perjalanan awal inilah yang membawa saya semakin haus pengetahuan khususnya mengenai metode pendidikan homeschooling yang saat ini semakin banyak digandrungi keluarga-keluarga di Indonesia. Sebagai orang yang baru mengenal homeschooling kala itu, saya sangat tertarik dengan ragam kegiatan yang dilakukan oleh Pramuka OASE, khususnya OASE Eksplorasi. Namun, di perhelatan pertama OASE Eksplorasi di tahun 2016 saya hanya bisa menikmati perjalanan adik-adik Pramuka OASE dengan membaca jurnal perjalanan yang mereka tulis di blog mereka.


Membaca jurnal perjalanan mereka ternyata sangat menyenangkan untuk saya pribadi. Pengalaman-pengalaman unik dan penuturan khas anakanak menjadi ‘bumbu’ istimewa yang menemani saya selama membaca jurnal mereka. Sayangnya, membaca cerita belasan anak mengenai satu peristiwa yang mereka alami bersama kerap membuat saya jenuh juga karena adanya beberapa pengulangan cerita. Berangkat dari pengalaman inilah, muncul ide ‘kenapa tidak semua catatan perjalanan ini digabungkan
menjadi satu alur cerita?’ Dengan demikian, tidak ada pengulangan cerita dan cerita-cerita menarik yang ditulis oleh setiap anak bisa ditampilkan. Ide tersebut ternyata disambut hangat oleh Kak Shanty sebagai inisiator OASE Eskplorasi, tetapi untuk merelisasikan ide tersebut kami sadar butuh upaya yang tidak sedikit. Alihalih untuk merealisasikan segera ide ini, Kak Shanty kemudian memberikan saya amunisi berupa empat buah buku yang ditulis dengan ide serupa oleh adik-adik dari Semi Palar, sebuah sekolah di Bandung yang ‘Perjalanan Besar’nya juga banyak menginspirasi OASE Eksplorasi.


Waktu terus bergulir hingga persiapan menuju OASE Eksplorasi tahun 2017 pun terhelat. Saya kemudian dipinang untuk menjadi salah satu mentor perjalanan. Pada OASE Eksplorasi tahun 2017 kami menyapakati bahwa bentuk output dari perjalanan ini diserahkan ke masing-masing peserta
secara individu. Hal ini dimaksudkan agar setiap peserta dapat membuat output sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Dengan begitu, tidak ada rencana untuk merealisasikan ide buku ini sebagai sebuah bentuk output bersama. Meski demikian, jurnal perjalanan setiap anak tetap didokumentasikan dengan baik di blog-blog pribadi mereka. Hal ini nampaknya sudah menjadi output wajib dari setiap perjalanan OASE Eksplorasi.


Pada OASE Eksplorasi tahun 2018, secara tidak sengaja saya merasa bahwa tahun inilah waktu yang paling tepat untuk merealisasikan ide penyusunan buku yang sempat tertunda dua tahun ini. Awalnya, saya sendiri tidak banyak terlibat di proses persiapan pra-perjalanan karena untuk tahapan ini Pramuka OASE tengah menggandeng Sekala Petualang sebagai fasilitator kegiatan, dan oleh karena itulah saya merasa memiliki atensi yang lebih kuat dan keluangan untuk merealisasikan ide buku ini.
Akhirnya pada momen yang tidak diduga-duga, dalam sebuah perbincangan santai di pertemuan rutin Pramuka OASE, Kak Lala dan Kak Shanty secara resmi memberikan saya sebuah challange untuk secara serius menggarap buku ini. Tentu saja saya menerimanya dengan senang hati, sebuah tantangan yang sebetulnya sudah saya tunggu-tunggu, sebuah tantangan yang saya yakin akan mendapatkan banyak pelajaran di dalamnya, sebuah tantangan yang juga sebuah awal dari perjalanan kami mengampu sebuah buku untuk dapat dikhidmati banyak orang. Sebuah awal.

PROSES PENYUSUNAN BUKU
Buku ini menyajikan sesuatu yang cukup berbeda dari buku-buku bergenre travel writing kebanyakan. Bahan bakar utama penulisan buku ini adalah jurnal perjalanan 17 penggalang Pramuka OASE yang mengikuti perjalanan Eksplorasi 4 Pulau. Ketujuh belas jurnal ini kemudian dipilah dan dijahit kembali dengan satu benang merah sehingga menjadi satu kesatuan alur. Sebagai pelengkap, kami juga menambahkan jurnal orangtua agar lebih memperkaya sudut pandang. Proyek penyusunan buku ini bisa dikatakan adalah proyek gotong royong karena dikerjakan secara bersama-sama oleh adik-adik penggalang dan para mentor. Pada bagian ini saya akan berbagi sedikit tentang bagaimana kami melakukannya secara bersama-sama.
Jauh sebelum perjalanan OASE Eksplorasi tahun 2018 dimulai, kami semua sudah menyepakati di awal bahwa salah satu output bersama yang akan kami ampu nanti adalah buku perjalanan ini. Hal ini penting untuk memastikan semua orang yang terlibat memiliki mimpi yang sama. Dalam beberapa kesempatan latihan pra-perjalanan bersama Sekala Petualang, beberapa tugas juga diberikan dalam bentuk menulis jurnal harian, salah satu tujuannya adalah untuk membiasakan adik-adik penggalang menulis jurnal.


Saat perjalanan OASE Eksplorasi tahun 2018 yang bertajuk Eksplorasi 4 Pulau ini akhirnya berlangsung, menulis logbook harian pun sudah menjadi kebiasaan. Setiap adik-adik penggalang yang berangkat sudah dengan kesadaran bahwa jurnal yang mereka tulis kelak akan dijadikan buku, untuk itu sejauh yang saya amati mereka sangat semangat dan antusias dalam menulis logbook. Hampir di setiap sela-sela waktu luang, ada saja yang tiba-tiba membuka buku catatannya dan menulis sesuatu, tak jarang juga satu sama lain saling bertanya mengkonfirmasi informasi yang mereka terima selama perjalanan agar data yang mereka tulis di dalam jurnal benar sebenar-benarnya. Misalnya saja, ‘tadi yang kita lewatin itu jembatan apa namanya?’ ‘tadi kita pas sampe dermaga jam berapa ya?’ ‘tadi nama pantainya apa ya?’ dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya.
Hampir setiap malam kami berkumpul untuk melakukan refleksi bersama mengenai kegiatan yang telah kami lalui hari itu, hal ini ternyata sangat efektif untuk mempertajam kembali memori dan pengalaman adik-adik penggalang yang kelak akan mereka tulis dalam logbook dan jurnal perjalanan. Dengan refleksi bersama ini, mereka mencatat kembali poin-poin penting yang telah mereka lalui hari itu, yang kemudian mereka catat dalam logbook mereka dan akan mereka ceritakan lebih rinci di jurnal seusai perjalanan nanti.


Selepas perjalanan Eksplorasi 4 Pulau, kami para mentor memberikan waktu jeda untuk menulis jurnal hanya sebatas dalam waktu dua minggu saja. Hal ini dimaksudkan agar jurnal perjalanan yang mereka tulis masih dengan kondisi ingatan yang segar, sehingga pengalaman yang diceritakan jadi lebih hidup, detil dan ekspresif. Sembari itu, kami juga meminta orangtua melakukan hal yang sama untuk menulis jurnal.


Ketika batas waktu pengumpulan jurnal sudah tiba, kami melangkah ke tahap selanjutnya yaitu pembentukan tim redaksi penyusunan buku. Mengingat bahwa proses penyusunan buku akan membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit, kami membuka rekruitmen tim redaksi secara sukarela. Akhirnya, dari 17 adik-adik penggalang yang ikut melakukan perjalanan Eksplorasi 4 Pulau, ada 12 orang yang bersedia ikut berkarya sebagai tim redaksi. Tim ini kemudian kami bagi menjadi dua bagian sesuai dengan fokus pekerjaannya, yaitu tim penyunting dan tim ilustrasi. Tim kami juga akhirnya diperkuat dengan bergabungnya Kak Yudhis, yang saat ini sudah menjadi penegak di Pramuka OASE, sebagai penata letak yang akan mendesain secara keseluruhan buku ini. Langkah selanjutnya yang kami lakukan adalah membuat kerangka buku dengan menentukan judul-judul besar yang di dalamnya akan menceritakan satu kejadian dalam satu rentang waktu tertentu. Setelah kerangka buku dibuat, barulah tim penyunting bekerja me-review jurnal perjalanan temanteman mereka, memilah kutipan-kutipan dari jurnal yang akan dimasukkan ke dalam judul-judul yang sudah kami sepakati bersama. Secara paralel, tim desain dan ilustrasi juga membuat konten-konten digital ilustrasi dengan bermodalkan kerangka tersebut. Sedangkan Alev yang memiliki minat khusus di bidang videografi bertugas mengumpulkan bahan-bahan foto dan video dari perjalanan untuk kemudian dibuat video dokumentasinya.


Mengingat bahwa selama perjalanan ini setiap peserta tidak membawa gawainya masing-masing, seluruh bahan foto dan video yang dikumpulkan bersumber dari dokumentasi mentor perjalanan. Setelah semua bahan bakar utama tulisan ini sudah dibuat dan disusun sedemikian rupa, barulah tugas saya sebagai penyunting utama untuk menjahit kutipan-kutipan yang sudah di-review oleh tim penyunting sekaligus menambahkan jurnal orangtua ke dalam naskah. Tak lupa, untuk lebih melengkapi lagi buku ini, bab 1 dibuka oleh tulisan Kak Shanty Syahril, inisiator OASE Eksplorasi, yang berbagi cerita di balik proses persiapan perjalanan Eksplorasi 4 Pulau. Pembaca muda dapat memilih melewatkan bab ini dan langsung mulai membaca dari Bab 2, yang dituturkan langsung oleh ke-17 adik-adik pengalang peserta Eksplorasi 4 Pulau. Sebagai bab penutup, Pak Aar Sumardiono juga akan membagikan sudut pandangnya mengenai refleksi perjalanan Eksplorasi 4 Pulau khususnya sebagai sebuah media pembelajaran dan pendidikan bagi keluarga.


Setelah draft naskah sudah jadi, bola kemudian bergulir ke penata letak untuk ‘mendandani’ buku ini semenarik mungkin, termasuk memasukkan beberapa bagian bonus tambahan di buku ini berupa QR Code yang akan membawa pembaca kepada tautan-tautan hasil karya adik-adik penggalang yang juga relevan dengan isi buku ini.


Menurut saya, proyek penyusunan buku ini sangat bisa diduplikasi oleh siapapun, harapan kami semoga buku semodel ini akan lebih banyak diproduksi oleh komunitas-komunitas lain. Menulis adalah bagian dari refleksi. Refleksi yang dilakukan secara bersama-sama akan membantu memperkaya kita dengan pemaknaan yang beragam. Semakin kita mengenal lebih banyak sudut pandang, semakin mudah bagi kita untuk menikmati sebuah cerita sebagai sebuah proses belajar dalam hidup. Spirit inilah yang berusaha kami hadirkan dalam buku ini; satu perjalanan, banyak sudut pandang, ragam pemaknaan dan refleksi kehidupan. Berharap menyelaraskan kita akan hakikat dari kehidupan sebagai sebuah perjalanan.


Akhir kata, selamat membaca dan menjelajahi buku ini. Salam Penjelajah!
Jakarta, 2 Januari 2019

Muhammad Naufal
Mentor Eksplorasi dan Penyunting Utama

 

Link Pilihan:

Artikel Terbaru

10 November 2025

Halo, teman-teman semuanya. Sedang merasa...

03 August 2025

Pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah fondasi. Cara...

17 July 2025

Apa jadinya jika hidup kita terus-menerus berubah...

02 March 2025

Pernahkan pada suatu moment, kalian mengatakan...

01 March 2025

Kesepian bukan sekadar perasaan melankolis yang...

28 February 2025

Manusia adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan...

26 February 2025

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Aman...

26 February 2025

Menemukan orang yang tulus itu sulit. Sama...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?