Pesawat Birumu di Langit Eropaku – Ivanasha & Ikmal

PUISI-PUISI YANG BERSAHAJA DAN JERNIH

Oleh: Jose Rizal Manua

Ketika ditawari membuat pengantar untuk antologi puisi “Pesawat Birumu di Langit Eropaku”, langsung saya penuhi. Karena antologi puisi ini cukup unik. Di tulis oleh 2 muda-mudi (A. Ikmal Febriansyah dan Ivanasha Adani Prasetianti) yang belum pernah ketemu. Persahabatan hanya mereka jalin melalui media sosial (twitter). Lewat media sosial inilah mereka berkolaborasi, membuat antologi puisi.

Ini sebuah peristiwa langka yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Untuk upaya serupa ini diperlukan kerendahan hati. Dan kerendahan hati itu telah ditunjukkan oleh Ikmal dan Ivanasha dengan membuat sebuah antologi “Pesawat Birumu di Langit Eropaku”. Ini sebuah upaya yang otentik, unik dan indah.

Dalam antologi “Pesawat Birumu di Langit Eropaku”, terhimpun 101 puisi; 50 puisi karya Ikmal dan 50 puisi karya Ivanasha, sedangkan 1 puisi karya kolaborasi dari mereka berdua. Sebuah puisi karya kolaborasi ini, yang paling menarik menurut saya. Meskipun keduanya melukiskan tentang jarak, tapi kepribadian yang otentik dan latar lingkungan yang berbeda, membuatnya menjadi suatu kepaduan yang tak terduga.

Ada baiknya puisi yang berjudul “Tiga Langkah” ini saya salin selengkapnya:

TIGA LANGKAH

Malam ini ruang merenggang di antara kita

Menegaskan jarak melebihi biasanya

Kerinduan seakan hanya butir percuma

Tanpamu ia hanya kalimat biasa

di sini

di ruang ini

aku telah melukiskan sebuah kota

di mana kita hanya berjarak tiga langkah

dan seorang yang bernama waktu sedang berdoa untuk mempertemukan kita

Tanpa kau ketahui

Kerinduan sedang menangisi kita sebelum pertemuan

Seberapapun sering doa dan imaji terpanjatkan

Masih ada langkah-langkah tersisa

Yang harus kita jalani tanpa bersisihan

dan perlu kau ketahui

keganjilan dalam jarak kita

adalah keganjilan waktu yang tak berhenti berdoa

di mana malamku adalah pagi untukmu

di mana pagiku adalah malam untukmu

dan kelak, keganjilan ini akan kita genapkan

dalam suatu pelukan saat pertemuan

pelukan yang menyatukan pagi dan malam

yang menyatukan matahari dan bulan

dan kita akan menikmati senja tanpa maut dan kehilangan

Indonesia-Jerman, Minggu, 9 Februari 2014.

Membaca puisi di atas, kita merasakan betapa jarak dan perbedaan waktu menyergap dua insan dalam “kerinduan”; “dan perlu kau ketahui/ keganjilan dalam jarak kita/ adalah keganjilan waktu yang tak berhenti berdoa/ di mana malamku adalah pagi untukmu…”

Kesan dan makna peristiwa tentang sketsa-sketsa kehidupan terlukis dalam antologi puisi ini. Yang diekspresikan bukan hanya kerinduan dan kegelisahan-kegelisahan si penyair, tetapi juga masalah-masalah moral dan sosial, akibat interaksi penyair dengan lingkungan atau masyarakat sekitar. Seperti puisi yang berjudul “penyemir”, “pelukis”, “pemulung”, dll.  Yang juga menarik dari antologi puisi karya Ikmal  dan Ivanasha ini, adalah tahun penciptaannya. Semua di tulis sepanjang tahun 2014.

Dari antologi puisi ini kita akan menemukan ungkapan yang bersahaja dan jernih dari penyairnya, karena diekspresikan dari kalbu yang jujur dan dari kasih sayang yang sejati. Coba kita simak dua puisi di bawah ini:

YANG ABADI

Karya: Ikmal

yang abadi di pohon tua ini

hanya nama kita

dikekalkannya huruf-huruf

yang kita sendiri lupa kapan menuliskannya

KEKAL

Karya: Ivanasha

kelak matahari akan pulang kepada garisnya

lalu malam menggantikannya

namun rindu tetap tak berubah

karena ia kekal saat kau tiada

Tanpa bermaksud mengindah-indahkan kata dan memanis-maniskan kalimat, kita bisa menangkap kekayaan imaji yang terkandung di dalamnya. Dari antologi ini kita tidak akan menemukan metafora yang muluk-muluk, selain kalimat-kalimat bersahaja yang jujur tanpa pretensi untuk “indah”. Namun ke”indah”an itu mencuat dengan sendirinya. Dalam antologi ini dapat juga kita rasakan kepekaan penyair dalam menghayati manusia, alam dan lingkungan.

Memang, secara keseluruhan, antologi puisi “Pesawat Birumu Di Langit Eropaku” ini merefleksikan kerinduan dua insan yang dipisahkan oleh dua benua. Tapi kerinduan itu justru memotivasi semangat keduanya untuk untuk menuntut ilmu, merangkum gemintang di antara matahari dan rembulan.

Semoga antologi puisi “Pesawat Birumu Di Langit Eropaku” ini menjadi pintu untuk melahirkan karya-karya yang lebih gemilang. Karya-karya lebih merangsang dan menantang. Karena perjalanan masih panjang membentang. Tetapi, “harapan” dan “kasih sayang”, dapat memberi semangat untuk meraih apa yang di angan. Sebagaimana yang terlukis dari dua puisi di bawah ini:

CAHAYA

Oleh : Ivanasha

kau ialah cahaya pada jalanku yang kelabu

menerangkan langkahku untuk tetap melaju

menghadapi setiap rintangan

dan semua angan-angan

cukupkah setiap hari ku berdoa

menengadahkan tangan pada Yang Kuasa

untuk selalu membiarkanmu menjadi cahaya

pada jalanku yang sedia beribu bahaya

dan selalu aku berharap

bahwa kau cahayaku tetap

menghiasi jiwa yang hampa

dan berkabut asap luka

di sini sayang

temani aku di bawah bintang

terus menjadi cahaya di antara remang

jadikan jejak ini benderang

dan,

terimakasih sayang

keberadaanmu di sini

ialah jawaban doaku pada Illahi

Greifswald, 2014.

MUSIM HUJAN

Oleh : Ikmal

pada musim hujan

sajak ini adalah nyala api

kau tak perlu lagi menggunakan payung jika ingin pergi

sebab sajak ini

kukirim untukmu, sebagai pengganti matahari

Jambi, 2014.

Buku ini bisa didapatkan melalui email: rusdi.canting@gmail.com

Artikel Terbaru

10 November 2025

Halo, teman-teman semuanya. Sedang merasa...

03 August 2025

Pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah fondasi. Cara...

17 July 2025

Apa jadinya jika hidup kita terus-menerus berubah...

02 March 2025

Pernahkan pada suatu moment, kalian mengatakan...

01 March 2025

Kesepian bukan sekadar perasaan melankolis yang...

28 February 2025

Manusia adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan...

26 February 2025

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Aman...

26 February 2025

Menemukan orang yang tulus itu sulit. Sama...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?