Stilistika – Mhd. Anggie Januarsyah Daulay, S.S.,M.Hum.

Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah lepas dari problematika kehidupan, permasalahan dapat muncul seiring kebutuhan hidup yang harus terealisasi. Persoalannya mampukah manusia bertahan pada kondisi tersebut, bergantung pada kemampuan mempertahankan keberadaan diri. Sejalan dengan majunya peradaban, banyak ditemui manusia yang lepas dari batas pertahanan diri. Semisal dalam kehidupan bersosial, lebih suka bersikap apa adanya dan cenderung apatis, melewatkan hal-hal yang dianggap tidak penting atau katakanlah tidak berpengaruh langsung kepada diri pribadi. Semua hal selalu diorientasikan pada ’nilai’ yang didapat. Lain lagi pada manusia yang terlalu menyikapi perkembangan jaman pada rasa kepercayaan diri berlebih, tipe ini tidak terlepas juga dari pergolakan masalah. Semuanya memiliki akses pada munculnya dampak yang akan dialami, hanya tinggal menunggu saat ini atau nanti. Deskripsi

kehidupan nyata seperti ini banyak terlihat dalam karya sastra.

Produktivitas karya sastra tersebut akibat gambaran langsung

dari kehidupan, karena memang sastra yang berkategori ’baik’

adalah yang merepresentasikan kehidupan nyata.

Sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat,

jarang terlepas dari peradaban. Oleh sebab itu dapatlah

diformulasikan sebuah titik tolak peradaban dan wacana sastra

yang semakin mempererat hubungan keduanya. Yaitu ”Oleh

karena sastra bercermin pada gejala peradaban yang

mempengaruhi segala aspek tatanan kehidupan, maka dapat

dikatakan bahwa masalah peradaban adalah masalah

sastra”. Artinya sastra bertugas menyampaikan sejujur dan

seadilnya. Proses penyampaian kejujuran dan keadilan sastra

terletak pada kelihaian sastrawan, kenapa saya menyebut

sastrawan? Adalah dia yang ’berketerampilan’ pada bidang

sastra. Kata ’berketerampilan’ ini bukanlah merujuk kepada

keberpihakan seseorang, namun justru menggiring pada

kekompakkan. Kata ’berketerampilan’ juga tidak terbatas

pada hal biasa, namun mampu berkreasi dan berinovasi.

Secara keseluruhan mencakup penyair, penulis prosa,

pembaca, dan penganalisis sastra.

Semakin terampil seorang sastrawan, semakin terlihat

pada gaya kebahasaannya. Suatu hal yang mendasari

penyampaian sastra sekreatif dan seinovatif mungkin, adalah

dengan penggunaan gaya yang mewakili karakteristik dan ciri

pribadinya. Gambaran ini terlihat jelas oleh kondisi setiap

manusia yang berbeda penafsiran terhadap sesuatu. Sebagai

contoh nyata bagi kita ketika Chairil Anwar menyampaikan

karyanya dengan penggunaan bahasa tulis dan lisan yang

’meledak-ledak’, berbeda dengan Taufik Ismail yang lebih

menggunakan bahasa tulis halus dan lisan yang lembut,

namun karya keduanya tetap memiliki konsep makna yang

menarik dan estetis. Keduanya memiliki karakteristik dan

gaya yang berbeda. Perbedaan gaya banyak pula ditemukan

pada karya cerpen dan novel. Masing-masing gaya merupakan

keterwakilan diri pengarang. Stilistika sebagai studi kajian

gaya (style) memberikan angin segar bagi kazanah

kesusastraan, terlebih di Indonesia. Hal ini yang mendasari

kajian Stilistika berkembang di Indonesia.

Stilistika pada mulanya berasal dari Yunani Kuno, namun

di Indonesia diperkenalkan oleh Slamet Mulyana pada tahun

1956. Awalnnya Stilistika dipakai hanya untuk melihat gaya

pemakaian bahasa seseorang dalam kehidupan sehari-hari,

namun berkembang menjadi salah satu kajian sastra. Hal ini

didasari pada pemahaman bahwa dalam sastra terdapat

penggunaan bermacam gaya kebahasaan.

Perspektif sastra melihat Stilistika sebagai suatu kajian

yang menyelidiki gaya (style) kebahasaan sastrawan melalui

karyanya. Istilah gaya (style) terlalu luas dan tidak berbatas,

oleh sebab itu perlu ditekankan pada pemunculan beberapa

aspek yang masih berkategorikan dimensi gaya (style). Untuk

itu, dalam buku ini akan dijelaskan lebih lanjut apa saja

aspek-aspek gaya (style) dalam sastra, baik itu gaya (style)

puisi, gaya (style) cerpen, maupun gaya (style) novel.

Buku Stilistika Menyimak Gaya Kebahasaan Sastra ini

dihadirkan sebagai salah satu sumber bacaan dalam mata

kuliah Stilistika, selain itu juga untuk mendampingi

kepustakaan lainnya mengenai pengetahuan tentang kajian

Stilistika Sastra dan aspek-aspek pengkajiannya, yaitu aspek

gaya puisi, cerpen, dan novel. Buku ini berisi Sembilan bab.

Bab 1 Selayang Pandang Stilistika, Bab 2 Sejarah Stilistika,

Bab 3 Stilistika dan Teori Lain, Bab 4 Stilistika Jenis dan

Pendekatan, Bab 5 Stilistika Gaya Kebahasaan Sastra, Bab 6

Aspek Kajian Stilistika Sastra, Bab 7 Analisis Stilistika Puisi,

Bab 8 Analisis Stilistika Prosa Cerpen, dan Bab 9 Analisis

Stilistika Prosa Novel.

Terima kasih diucapkan kepada semua pihak yang

membantu terselesaikannya buku ini. Motivasi dari beberapa

pihak merupakan faktor tak ternilai dalam hal membakar

‘jenuh’ menjadi ‘kobaran semangat’ hingga buku ini menjadi

nyata. Buku ini masih jauh dari apa yang diharapkan

pembaca, untuk itu penulis mengharapkan saran, masukan,

dan kritik konstruktif demi perbaikan selanjutnya. Akhir kata,

semoga buku ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Selamat

membaca dan salam sastra.

Artikel Terbaru

10 November 2025

Halo, teman-teman semuanya. Sedang merasa...

03 August 2025

Pagi bukan sekadar waktu. Ia adalah fondasi. Cara...

17 July 2025

Apa jadinya jika hidup kita terus-menerus berubah...

02 March 2025

Pernahkan pada suatu moment, kalian mengatakan...

01 March 2025

Kesepian bukan sekadar perasaan melankolis yang...

28 February 2025

Manusia adalah mahluk sosial. Kita membutuhkan...

26 February 2025

Semua orang pasti ingin hidup bahagia. Aman...

26 February 2025

Menemukan orang yang tulus itu sulit. Sama...

Our Facebook

INGIN KONSULTASI?