Our Facebook
“RAKYAT SEJAHTERA, NEGARA KUAT”
Oleh: Jenderal TNI (Purn) H. Djoko Santoso
Ketua Dewan Pembina Gerakan Indonesia Adil Sejahtera Aman (Indonesia ASA)

 

Trik+menjadi+anggota+legeslatif

Bismillaahirrahmaanirrahiem
Menjadi calon anggota legislatif, adalah istimewa, sesuatu yang tidak mudah, karena membutuhkan energi, waktu, biaya, pengalaman, kapasitas pribadi dan track record yang cukup. Tidak semua orang dapat menjadi calon, karena harus dicalonkan oleh partai politik dengan jumlah yang sangat terbatas dengan pertimbangan yang sangat berat. Bagi partai politik peserta pemilu, memilih dan menentukan calon anggota legislatif adalah juga kebijakan yang tidak mudah. Pertimbangan loyalitas, dedikasi, popularitas, elektabilitas, dan potensi anggaran yang cukup dari sang calon menjadi tolok ukur secara umum agar sang calon dapat dengan mudah memperoleh daerah pemilihan dan nomor urut yang yang diinginkan. Itu proses dan langkah bagaimana menjadi calon, belum pada tahap kedua yang jauh lebih berat, yakni bagaimana menjadi calon anggota legislatif terpilih.

Buku “Tips & Trik  MENJADI CALON ANGGOTA LEGISLATIF TERPILIH Dengan Mudah” adalah menjawab dan memudahkan langkah kedua bagi para calon anggota legislatif, yakni bagaimana cara yang efisien dan efektif untuk menjadi calon anggota legislatif terpilih.  Saudara Abdurahman Syagaff, penulis buku tersebut  saya kenal sebagai mantan anggota DPR RI yang produktif  dalam menulis dan memberikan gagasan-gagasan cerdas. Saya percaya buku tersebut akan memberikan manfaat banyak bagi masyarakat khususnya para calon anggota legislatif. Manfaat yang diperoleh tidak sekedar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan membantu para calon untuk dengan mudah menjadi calon anggota legislatif terpilih, tapi juga mengajak dan mengarahkan kita untuk menjadi orang baik dan benar, berniat dengan benar dan dengan strategi yang pas untuk diterapkan dengan cara-cara yang benar, dan sukses menghasilkan orang-orang yang benar.

Hal inilah yang justru menjadi kalimat kunci sebagaimana sering saya katakan kepada banyak orang, sebagai hasil istikharah saya untuk menjawab dorongan para sahabat dan kelompok masyarakat yang mendorong saya untuk maju menjadi kandidat Presiden RI, dan setelah selesai menjalankan umrah di Masjidilharam saya dua kali membuka Al-Qur’an dan menemukan kalimat kunci yang sama yaitu dalam Qur’an Surat Al-Isra ayat 80: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”

Jika seorang calon anggota legislatif memegang teguh prinsip tersebut, maka Allah Subhanahu wa ta’ala Insya Allah akan memberikan kemudahan padanya untuk dengan mudah menjadi calon anggota legislatif terpilih dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik sebagai anggota legislatif untuk memenuhi tuntutan rakyat atas kehidupan yang lebih baik sesuai amanat konstitusi. Apa amanat konstitusi kita? Mencapai cita-cita bangsa yaitu Indonesia merdeka, berdaulat, bersatu, adil, dan makmur. Generasi 45 telah berhasil merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kita sebagai bagian dari generasi penerus bertanggungjawab mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, dan itu merupakan tugas sejarah bagi kita sebagai penerus.
Pada saat saya sebagai Panglima TNI, saya mencetuskan konsep “Trisula TNI” sebagai bagian dan upaya untuk meleksanakan tugas kita sebagai penerus untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Tentu konsep ini juga dapat diterapkan bagi Anda sebagai calon dan atau anggota legislatif terpilih. Apalagi bagi seorang calon anggota legislatif, Anda harus memiliki kemampuan dan kecakapan dengan tugasnya (profesional), memiliki mental kepribadian yang mantap, kemampuan pengembangan diri, dan dapat melaksanakan tugas dengan baik. Saya kemukakan konsep Trisula TNI secara singkat dan silahkan Anda sebagai calon anggota legislatif memformulasikannya sesuai kebutuhan. Secara harfiah, Trisula TNI berarti senjata dan kekuatan bermata tiga, berupa tiga kekuatan TNI (TNI AD, TNI AL, dan TNI AU) yang digunakan dan ditampilkan secara fisik dan non-fisik dalam mengemban peran dan tugas pokoknya secara optimal. Tombak dengan tiga mata/ujung menjadi simbol menyatu dan manunggalnya ketiga Angkatan TNI. Maknanya  adalah bahwa ketiga Angkatan TNI itu tidak berarti apa-apa jika tidak didukung rakyat (disimbolisasikan sebagai tongkat). Sedangkan arti substansinya, Trisula TNI adalah kekuatan yang harus dimiliki TNI, yaitu kekuatan bermata tiga.

Sula pertama adalah, TNI sebagai kekuatan pertahanan yang profesional dan militan, artinya sebagai kekuatan yang siap menghadapi segala bentuk ancaman militer, atau ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata secara terorganisir yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia. Implementasi sebagai kekuatan pertahanan adalah, bahwa setiap prajurit TNI harus berpikir, berbuat, dan bertindak atas dasar kemampuan dan keterampilan olah keprajuritan secara profesional dan bertanggungjawab, memiliki militansi TNI dalam wujud mempunyai keunggulan moral, rela berkorban, dan tidak mengenal menyerah serta selalu bersama rakyat, yang tercermin dalam sikap mencintai dan dicintai rakyat.

Sula kedua adalah, TNI sebagai kekuatan moral. Artinya, sebagai kekuatan yang mengedepankan moral dan bekerja dengan prinsip dasar baik dan buruk, serta benar dan salah sebagai dasar pertimbangan, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara serta menjunjung tinggi dasar falsafah Negara. Implementasi sebagai kekuatan moral adalah bahwa setiap prajurit TNI harus berpikir, berbuat, dan bertindak atas dasar nurani dan nilai-nilai moral bangsa, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Agar setiap pribadi prajurit TNI mampu sebagai kekuatan moral, maka dia harus memiliki moral yang terpuji, melalui pendalaman tiga hal. Pertama, bahwa Tuhan itu ada. Kemana engkau hadapkan mukamu di situ wajah Tuhan. Atau, Allah itu lebih dekat dengar urat nadi yang ada di leher. Kedua, bahwa manusia itu akan mati, dan sesungguhnya Tuhan itu akan menghidupkan orang-orang yang mati. Ketiga, bahwa Tuhan itu mencatat segala amal perbuatan dan sisa-sisa yang ditinggalkan, dan akan memperhitungkan dalam bukti yang nyata.
Sula ketiga adalah, TNI sebagai kekuatan kultural. Artinya, sebagai kekuatan yang mempertahankan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yang memiliki wawasan atas kemajemukan bangsa sebagai modal kekuatan bangsa dan memandang kemajemukan bangsa itu sebagai satu kesatuan dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Implementasi sebagai kekuatan kultural adalah, bahwa setiap prajurit TNI harus berpikir, berbuat, dan bertindak atas dasar nilai-nilai budaya bangsa, sebagaimana tertuang dalam Sesanti Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika, dan khususnya nilai-nilai yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda.
Pada akhirnya, dengan Trisula TNI saya berharap bahwa TNI itu menjadi garda terdepan sekaligus benteng terakhir bangsa. Di tengah itu, berdiri sosok pemimpin yang akan merubah nasib bangsa ini. Masalahnya adalah apakah perubahan itu mengarah pada hal yang baik atau sebaliknya, sangat tergantung pada kualitas dan integritas para pemimpinnya untuk dapat melakukan perbaikan kehidupan umat manusia.

Sejarah peradaban umat manusia mengajarkan kepada kita, bahwa untuk memperbaiki kehidupan umat manusia, Tuhan mengutus para Nabi. Demikian pula dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa yang telah mencapai kejayaan, membuktikan semua itu dicapai karena kehebatan pemimpinnya. Dalam konteks bangsa Indonesia saat ini, untuk mencapai kejayaan di abad 21 ini, diperlukan lahirnya para pemimpin yang memahami dan mencintai bangsa dan tanah airnya, mampu menginspirasi dan menyemangati bangsa untuk bangkit, bersatu, bekerja keras membangun bangsa sesuai jati diri dan kultur bangsa.
Seluruh persoalan penting bangsa Indonesia akan terjawab sepenuhnya bila pemimpin ke depan mampu mewujudkan amanat konstitusi, yaitu Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Kalimatnya sederhana tapi untuk mewujudkannya tidak mudah. Karena untuk mencapai cita-cita yang sangat luhur itu, diperlukan suatu pemahaman dan kondisi “Rakyat Sejahtera, Negara Kuat.” Kalimat itu mengandung makna edukatif, bahwa untuk membangun negara yang kuat, rakyat harus sejahtera; dan untuk mewujudkan rakyat sejahtera diperlukan negara yang kuat. Dalam arti negara yang melindungi rakyatnya, bukan semata-mata sebagai pusat segala kekuasaan.

Dengan demikian, diharapkan akan lahir pengertian, pemahaman, dan kesadaran rakyat serta segenap aparatur Negara untuk bangkit bersatu, bersama-sama bekerja keras untuk mencapai cita-cita bangsa. Upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa bukan suatu perkara yang mudah. Tantangan di era globalisasi saat ini dan masa depan semakin berat dan kompleks dalam setiap aspek kehidupan, terutama politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya.

Karena itu saya berharap dengan terbitnya buku ini akan membantu melahirkan sosok-sosok pemimpin bangsa yang memenuhi kualitas di atas dan dapat menjawab tantangan kini dan masa depan tersebut. Harapan saya tersebut bukan mengada-ada, karena memang dilandasi optimisme yang dibangun penulis buku ini dan mengajak untuk senantiasa menyempurnakan niat khususnya bagi para calon anggota legislatif agar berniat menjadi anggota legislatif sebagai bagian dari ibadah untuk mewujudkan Indonesia ASA (Adil, Sejahtera, dan Aman) atau baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur.

Demikian semoga Allah memberikan kemudahan, bimbingan, rahmat dan berkah-Nya kepada kita untuk dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya.