Our Facebook

t

“Reno adalah satu makhluk Tuhan yang berusaha memahami hal tersebut. Ia putra Medan yang pergi ke Kuala Lumpur, belajar di Oxford, menenangkan diri di Bali, berjuang di Jakarta dan akhirnya ia berusaha untuk menggabungkan semua perjalanannya untuk menemukan arti mozaik kehidupan.”

Begitulah penggalan sinopsis dari buku Life Puzzle. Ditulis oleh Taufik Hidayat Dihardja, Life Puzzle merupakan novel perdananya.  Pria kelahiran Medan, 26 tahun lalu ini memilih jalur self-publishing terkait resolusi tahunannya. “Karena saya hanya ingin keep bukunya sebagai bacaan untuk teman-teman saja Mbak. Awalnya iseng karena nulis novel menjadi salah satu daftar resolusi tahunan Mbak. Nah, kemarin karena sedikit demi sedikit buatnya, lama-lama nggak berasa kok jadi banyak halamannya. Jadi melalui jalur indie bisa di keep sebagai jawaban atas resolusi saya Mbak,” ujar Taufik.
 
Novel Life Puzzle bertutur tentang kayanya pengalaman tokoh utama, Reno. Kaya pengalaman hidup yang kurang lebih juga dialami Taufik. Tahun 2004, Taufik terpilih sebagai Delegasi Indonesia for Student Exchange Program di Gwangju, Korea Selatan. Kemudian tahun 2005, ia juga terpilih sebagai Delegasi Indonesia for MTV Asia Aid di Bangkok, Thailand. Dan tahun 2006, lagi-lagi terpilih sebagai Delegasi British Council Indonesia for Young Global Citizen Camp di Philipina. 
 
Ketika ditanya apakah Life Puzzle merupakan semi memoar, pria yang kini memilih berwiraswasta ini menjawab “Mungkin bisa disebut semi memoar karena memang sedikit banyak karakter Reno terpengaruh oleh hal-hal yang saya lihat dan saya rasakan. Yaa.. sekitar 70% imajinasi dan 30% sesuatu yang saya lihat dan jalani namun saya kembangkan.”
 
 
Seperti banyak penulis, Taufik pun sempat mengalami writer’s block. “Kayak, habis Bab ini saya mau kemana ya? Flow-nya belum jelas waktu saya tulis draft-nya. Saya menulis apa yang mau saya tulis, Mbak. Dan menyelesaikan endingnya juga, saya suka stres sendiri ini ada nggak sih benang merahnya dengan Bab sebelumnya,” akunya.
 
Lalu bagaimana Taufik mengatasinya? “Istilah saya ‘freeze’. Jadi, kalau lagi nggak dikejar-kejar kerjaan lain, saya buka file novel ini. Biasanya, seminggu sekali. Baca Bab, benerin kalau ada cerita yang menurut saya ngga sama,” jawab pria yang hobi membaca, menulis, travelling, serta desain ini.
 
Hobinya mendesain juga disalurkan Taufik dengan merancang sendiri sampul Life Puzzle. Ia menggunakan foto bidikan seorang temannya saat berkunjung ke Jepang. “Filosopinya kebanyakan selama ini kalau balon yang ada gas-nya selalu terbang ke udara, namun saya buat kebalikannya untuk balon yang di udara kembali ke bumi. Semua yang kita buat, semua kembali ke kesederhanaan,” tutur pria lulusan Bachelor of Arts dari Oxford Brookes University ini. 
 
***
Life Puzzle disunting oleh pasangan Catur S dan Retnadi Nur’aini. Bagaimana proses duet menyunting ini? “Kami bagi tugas. Saya lebih ke struktur kalimat, rasa bahasa, gimana biar kalimat ‘bunyi’. Sementara Mas Catur lebih ke ejaan. Waktu suntingan saya rampung, Mas Catur ngecek lagi buat ngoreksi, kali-kali ada ejaan yang saya siwer,” ujar Retnadi. 
 

Perdana melakukan self-publishing, Taufik mengaku deg degan. “Jujur saya deg deg seur. Saya belum tahu tulisan dalam buku ini bisa diterima atau nggak. Semuanya di luar perkiraan saya, untuk menjual, dll. Kemarin iseng izin dengan teman yang saya tulis namanya di buku tersebut mereka bilang mau beli. Jadi saya terpikir  ‘Ya Allah, bisa di jual toh.’ Jadi sekalian kemarin saya buat Twitternya banyak juga follower-nya, namun kembali lagi, saya belum terpikir untuk menjadi profesional dalam tulisan ini,” pungkas Taufik.