Our Facebook

paolini“After ‘Harry Potter’ and ‘Lord of the Rings,’ read ‘Eragon.” Begitulah bunyi selebaran yang mempromosikan Eragon, karya Christopher Paolini. Dalam 2,5 bulan, novel fantasi yang kemudian diterbitkan oleh Alfred A. Knopf Books for Young Readers  dicetak ulang sebanyak 14 kali.

Kesuksesan Eragon tidak datang dalam semalam. Sebelum dilamar Knopf, Eragon diterbitkan secara self-publishing. Penjualan Eragon secara langsung oleh seluruh keluarga pun sempat menjadi sumber penghasilan utama mereka. Seperti dituturkan Christopher pada USA Today: “Let me put it this way. Eragon put food on the table. If Eragon had taken a month or two to become more popular, we would have had to move to the city and take jobs. It came that close.”

Dukungan Orangtua

Lahir pada 17 November 1983, Christopher Paolini berasal dari keluarga kecil: Kenneth Paolini (ayah), Talita Hodgkinson (ibu) dan Angela Paolini (saudara perempuan). Christopher menjalani pendidikan rumah (homeschooling). Sejak kecil, ia gemar menulis cerpen dan puisi. Christopher juga gemar membaca dan kerap berkunjung ke perpustakaan. Sejumlah buku favoritnya adalah: Jeremy Thatcher dan Dragon Hatcher karya Bruce Coville, Dune karya Frank Herbert, Magician karya Raymond. E Feist serta karya-karya Anne McCaffrey sampai Ursula K.Le Guin.

Pada usia 15 tahun, Paolini lulus kursus jarak jauh American School of Correspondence (setara SMU). Mengaku jenuh usai lulus, di tahun yang sama Christopher menulis novel fantasi. “When I was growing up I didn’t want a regular job. I wanted to hang around with Tarzan in the jungle and daydream, tuturnya.

Terinspirasi dari lingkungan pegunungan dekat rumah Christopher di Paradise Valley, Mont, Eragon berkisah tentang seorang bocah dan naganya. Christopher juga mengembangkan sendiri tiga bahasa dalam novel tersebut: Bahasa Kuno, Bahasa Urgal dan Bahasa Kurcaci. Dalam novel tersebut kurang lebih terdapat 168 karakter, 93 tempat, 57 benda dan binatang.

Draft pertama rampung saat Christopher berusia 16 tahun. Usai merevisi draft pertama, Christopher kemudian memperlihatkan draft kedua pada orangtuanya, saat ia berusia 17 tahun. “They were extremely curious about it, and they loved it,” kenang Christopher.

Orangtua Christopher kemudian memutuskan menerbitkan Eragon secara self-publishing. Bahu-membahu mereka mendirikan penerbit Paolini International LCC. Keluarga kecil itu juga bahu-membahu menyunting, memeriksa aksara, merancang sampul, sampai menyiapkan materi promosi. Selama proses pracetak tersebut, Christopher juga menggambar peta Eragon dan mata naga untuk sampul buku (yang kini muncul di bagian dalam edisi terbitan Knopf). Dan saat Eragon dirilis pada Februari 2002, keluarga Paolini juga kompak melakukan promosi.

Dalam setahun, keluarga Paolini melakukan tur ke lebih dari 135 sekolah, perpustakaan dan toko buku untuk mempromosikan Eragon—Christopher bahkan pernah menandatangani bukunya di toko kelontong Albertson’s di Livingston, Mont. Dalam setiap acara, Christopher juga selalu mengenakan kostum bergaya abad pertengahan, berupa atasan merah, celana panjang hitam, dan but hitam. Padatnya jadwal promo tur Eragon kala itu membuat keluarga Paolini tidak pernah bermalam di rumah lebih dari tiga hari.

Promosi dari Mulut ke Mulut

Pertengahan musim panas tahun 2002, pengarang Carl Hiaasen dan keluarganya berkunjung ke Paradise Valley untuk memancing. Mereka mampir di Books & Music Etc milik Tim Gable di Livingston. Anak tiri Carl yang bernama Ryan Lindberg jatuh cinta pada novel Eragon yang dijual di sana. “It was fast-paced; it was cool. From the beginning, it starts to unfold pretty quickly,” tutur bocah kelas lima ini.

Sementara itu, nama Eragon juga sudah terkenal berkat promosi dari mulut ke mulut. Para pecinta Eragon menulis ulasan dan komentar mereka di Amazon.com. Publisher’s Weekly memuji Eragon sebagai “impressive epic fantasy.”

Hiaasen pun menghubungi penerbit yang pernah menerbitkan buku anak karyanya, berjudul Hoot. Penerbit itu adalah Knopf, suatu penerbit mayor di New York, Kemudian Knopf menawarkan untuk menerbitkan ulang Eragon, berikut sekuelnya yang saat itu bahkan belum ditulis Christopher.

Tawaran yang tepat waktu, karena saat itu Christopher mengaku mulai lelah dengan jadwal promo dan sulit berkonsentrasi pada penulisan sekuel Eragon. “We couldn’t handle things any longer on our own, then Knopf came to us, so it was a case of perfect timing. It’s incredible to me, very, very exciting. I think it’s wonderful that so many more people will be able to read Eragon” tutur Christopher pada Seattlepi.

Tahun 2003, Knopf merilis Eragon edisi kedua. Sementara sekuelnya: Eldest dirilis tahun 2005 dan Brisingr tahun 2008, dilanjutkan Inheritance pada tahun 2011. Serial ini telah terjual lebih dari 33 juta kopi di seluruh dunia dan pada Desember 2006 Eragon difilmkan oleh Fox 2000. Kesuksesan ini mengantarkan Christopher menjadi pengarang terlaris di New York di usia 19 tahun. “If it weren’t for the support of my parents and sister, none of this would’ve been possible for me,” tuturnya pada Rolling Stone.

Pada Indyweek, Christopher juga mengungkapkan pemikirannya tentang bakat dan ketekunan: “I think the persistence needed to finish a book and a long series is probably the hardest part of being an author. And it’s that persistence that often separates the amateurs from the professionals. Not so much talent; you can make up for talent with persistence. But without the persistence, even talent won’t succeed.

It’s very easy to think that large, dramatic actions and large, dramatic gestures will change your life. But it’s actually the small, habitual actions that change your life. If every day you take an hour and you do something in that hour—and that can be writing, that can be playing the guitar, that can be learning pottery, math, science, anything—if you do something for an hour every day, then in three years you’re going to be better than 90 percent of the people who work on that subject, especially if you really put your mind into it during that hour. It’s the small habits we have day-to-day over a long period of time that build up into something more.”

 ***

Ditulis dari berbagai sumber, dengan foto dari Rollingstone.com (karya John Lamparski dari Getty Images)