Our Facebook

kecil-300x450Cloth Diaper (Clodi) atau popok kain modern saat ini bukan barang baru bagi sejumlah ibu. Karena bisa digunakan terus menerus, clodi pun menjadi alternatif pilihan yang ramah. Ramah bagi kesehatan anak, juga ramah bagi lingkungan.

Jatuh hati pada clodi tahun 2009, Sitha Puspita mencari komunitas atau support group bagi orangtua pengguna clodi. Sayangnya, saat itu belum ada grup semacam itu di Indonesia. Ibu dua putri yang bermukim di Prancis ini pun memutuskan mendirikan Milis Popok Kain.
Milis yang mulanya hanya terdiri dari 10-20 orang, kini telah beranggotakan 1460 orang. Di blog http://milispopokkain.wordpress.com, komunitas ini bahkan membagikan gratis materi sosialisasi clodi berupa: poster dan brosur.
Apa yang membuat Sitha jatuh hati pada clodi? Pada HalamanSatoe, Sitha berbagi cerita.

 

  • Gimana sih awal ketertarikan Mbak Sitha pada clodi?
Saya tertarik dengan clodi atau popok kain saat hamil anak kedua di tahun 2009. Waktu itu, kami (saya dan suami) mempersiapkan kebutuhan bayi termasuk popok. Salah satu teman kantor suami menginformasikan satu online store yang menjual popok sekali pakai biodegradable dan kami tertarik sekali. Namun begitu kami membuka website online store tersebut, ada hal lain yang lebih menarik, yaitu popok kain modern. Waktu itu popok kain modern masih didominasi oleh jenis fitted dan belum banyak pilihan warna maupun motif. Namun ide bahwa kita tidak membuang popok dan bisa mempergunakannya kembali sangatlah menarik dari sisi ekonomi dan ekologi.

 

  • Di sini disebutkan, awal perkenalan Mbak Sitha dengan popok kain modern adalah dari suami. Saat itu apa Mbak Sitha sudah bermukim di Prancis? Gimana kisahnya sampai suami Mbak Sitha bisa menyarankan popok kain modern?
Menyambung jawaban atas pertanyaan sebelumnya, iya betul. Saat itu saya sudah di Perancis. Dan saat kami melihat info popok kain modern di internet, saya belum terlalu paham dengan konsepnya karena semua tertulis dalam bahasa Perancis. Kemudian suami menjelaskan secara detail dan mendorong saya untuk mencobanya untuk anak kami. Sejak itu, setiap kali ada pameran atau expo kebutuhan bayi maupun produk-produk organik-ekologis, kami selalu menyempatkan untuk mendatanginya karena biasanya ada produsen dan/atau seller popok kain modern. Dari kunjungan-kunjungan tersebut, kami semakin jelas dan yakin atas pilihan kami.

 

  • Sebelum menggunakan clodi, pernah nggak sih, Mbak Sitha menggunakan pospak? Lalu setelah pakai clodi, apa terus sama sekali nggak pakai pospak, atau dikurangi?
Untuk anak pertama, saya mixed antara pospak dan popok kain tradisional sampai dia lepas popok. Kemudian untuk anak kedua, karena popok kain modern sudah mulai populer dan beragam, maka saya pun menyetok banyak untuk si kecil. Karena itu lah saya lebih siap dan lebih sering memakaikan popok kain modern tersebut daripada pospak. Tentu ada momen-momen khusus dimana saya memakaikan pospak kepada si kecil, misalnya saat bepergian jauh, saat menitipkan si kecil pada mertua yang sudah sangat tua, atau saat si kecil ada di tempat penitipan anak (TPA) dimana di tempat tersebut kami tidak diperkenankan untuk memakaikan popok kain modern (setiap TPA bisa memiliki kebijakan yang berbeda tergantung pemerintah daerah setempat). Jadi dulu kami tetap memiliki sedikit stok pospak tapi khusus yang biodegradable.

 

  • Gimana awal terbentuknya Milis Popok Kain? Di sini disebutkan, mulanya terbentuk via yahoogroups pada 26 Juli 2009. Lalu di sana disebutkan, mulanya Milis Popok Kain hanya 10-20 orang. Apa mereka teman-teman yang sudah Mbak Sitha kenal lama atau berkenalan di dunia maya karena sama-sama tertarik clodi?
Saat itu saya mencari support group atau komunitas bagi para orang tua yang memakaikan popok kain pada anaknya. Namun saya hanya menemukan grup sejenis yang berbasis di negara lain, misalnya di Amerika Serikat atau di Inggris, bahkan di Perancis. Belum ada yang di Indonesia, belum ada grup yang berbahasa Indonesia. Jadi saya berpikir, kenapa saya tidak membuatnya saja dengan harapan grup tersebut akan membantu mensosialisasikan popok kain modern dan bisa masuk ke berbagai kalangan. Terbentuklah Milis Popok Kain di yahoogroups pada tanggal 26 Juli 2009.
Awalnya member Milis Popok Kain memang hanya sekitar 10-20 orang saja. Ada beberapa di antara mereka yang memang teman saya di SMA atau di Universitas Indonesia. Kebetulan mereka memakaikan juga popok kain pada anak-anaknya. Kemudian saya mempromosikan terbentuknya grup ini melalui akun Multiply saya serta mengajak beberapa teman maya yang menjual popok kain modern untuk membantu mempromosikannya. Cara ini cukup berhasil. Mereka dengan senang hati membantu. Pelan-pelan member Milis Popok Kain bertambah.

 

  • Gimana prosesnya sampai bisa ada toko clodi online yang bergabung dan bersedia membayar space iklan?
Awalnya, saya memang memberikan kebebasan kepada para seller popok kain untuk berjualan atau berpromosi dalam yahoogroups Milis Popok Kain. Kenapa? Karena ini untuk mempermudahkan member yang lain dalam mencari dan membeli kebutuhan mereka. Ketentuan dibuat, berpromosi hanya diperkenankan pada hari Kamis, jam 9-17 WIB. Semua ini gratis (sampai sekarang). Kemudian melihat perkembangan grup dan permintaan-permintaan kegiatan sosialisasi serta workshop di berbagai tempat, saya melihat perlunya pemasukan dana guna mendukung kegiatan-kegiatan tersebut. Di blog Milis Popok Kain yang pertama, semua bentuk promosi masih gratis. Begitu kami pindah ke blog baru (WordPress), sistemnya diubah. Bagi online seller yang hendak mempromosikan produk dan tokonya, ada space iklan berbayar. Sebelumnya, kami survey terlebih dahulu untuk mengetahui biaya space iklan di grup-grup lain. Kami tidak ingin terlalu tinggi mengenakan biaya karena kami tidak  mau memberatkan para seller maupun produsen lokal.

 

  • Milis Popok Kain membagikan poster dan brosur sosialisasi clodi secara gratis. Sungguh ide cemerlang! Ide siapakah ini, Mbak?
Ide ini sempat dibahas bersama antara tim sibuk Milis Popok Kain via Whatsapp dan email. Karena untuk daerah-daerah kecil kami belum bisa melakukan kegiatan sosialisasi, jadi kami mendorong member-member untuk melakukannya sendiri dengan bantuan poster dan brosur sosialisasi. Poster dan brosur tersebut juga  digunakan oleh kami saat diundang atau berpartisipasi dalam kegiatan terkait bayi, anak, parenting, maupun kegiatan komunitas.

 

  • Apa harapan Milis Popok Kain saat ini? Adakah rencana sosialisasi atau event terdekat?
Harapan Milis Popok Kain saat ini adalah tetap bisa membantu mensosialisasikan penggunaan popok kain di Indonesia. Sebagian orang tua mengalami benturan dalam penerapannya sehingga kami merasa perlu untuk tetap mendukung dan memberikan semangat, selain memberikan juga beragam informasi yang dibutuhkan oleh mereka.
Rencana sosialisasi atau event dalam waktu dekat adalah workshop (kedua) membuat popok kain modern. Namun ide ini masih dalam proses diskusi karena tentunya kami ingin ada sarana yang mendukung dalam workshop tersebut (khususnya, mesin jahit dan tempat yang memadai).
***
Hobi Membuat Prakarya & Berkebun 
Di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Sitha juga kerap menyalurkan hobinya berkebun. Pada awal tahun 2013, Sitha meraih juara pertama lomba berkebun di balkon. Lomba ini diadakan oleh D’Aucy, produsen bahan pangan kalengan di Prancis.
Tak hanya itu, Sitha juga senang membuat prakarya, menjahit, membuat asesoris,  dan lain-lain. Buah karya Sitha bisa dilihat di Do It Do dan Puspita Jewel. Beberapa karya hasil jahitannya adalah: tas, baju, dompet paspor, clodi dan training pants.

 

  • Mbak Sitha sempat menjahit clodi sendiri. Kenapa? Saat ini sudah berapa clodi yang Mbak Sitha jahit?
Betul, saya sempat menjahit beberapa clodi dan training pants. Tentunya semua itu berawal dari kebutuhan belajar dan kebutuhan training pants untuk puteri saya. Harga training pants termasuk mahal dan saat si kecil berusia 18 bulan saya sudah bertekad untuk mulai melatihnya dalam menggunakan potty. Untuk itu dibutuhkan training pants. Maka saya buatlah beberapa cloth training pants. Kemudian, saya juga membuat clodi untuk kado kelahiran anak teman dan juga untuk kebutuhan pembuatan tutorial cara membuat popok kain di blog Milis Popok Kain. Sudah berapa yang saya jahit? Terus terang saya tidak ingat.
***
Balik Modal berkat Reseller
Selain mendirikan Milis Popok Kain, Sitha juga menulis buku Popok Kain Modern secara self-publishing. Buku ini sendiri dicetak secara print-on-demand sebanyak 350 eksemplar dan laris manis.
 

 

  • Mbak Sitha menerbitkan Popok Kain Modern secara indie. Kenapa sih, milih nerbitin indie?
Awalnya saya ingin menerbitkan secara konvensional namun saya paham bahwa prosesnya akan lama (dan belum tentu mendapatkan penerbit) sementara kebutuhan saat itu akan informasi popok kain modern terbilang mendesak. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menerbitkan secara indie dan memasarkan langsung ke komunitas Milis Popok Kain.

 

  • Pernahkah nyoba mengirim naskah Popok Kain Modern ke penerbit mayor?
Pernah. Setelah buku indie-nya dicetak, saya menawarkannya kepada penerbit konvensional. Sayang sekali mereka kurang tertarik dengan ide popok kain yang menurut mereka adalah sesuatu yang merepotkan dan tidak menarik bagi orang tua di jaman sekarang.

 

  • Berapa lama Mbak Sitha menulis Popok Kain Modern? 
Saya kurang ingat berapa lama. Tapi kalau dihitung dari konsep dan draft awalnya, kurang lebih satu sampai satu setengah tahun. Saya sempat mandeg alias berhenti karena ada salah satu member Milis Popok Kain yang mempunyai ide yang sama (membuat buku popok kain modern) sehingga saya merasa tidak perlu untuk melanjutkan rencana saya (satu buku panduan saja sudah cukup, tidak perlu double, karena misinya sama). Namun ternyata setelah menunggu beberapa bulan, teman saya itu tidak juga membuatnya (mungkin tidak sempat). Jadi saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan lagi semua yang tertinggal.

 

  • Saat menulis buku ini, bagian mana yang tersulit menurut Mbak Sitha? Dan bagaimana Mbak Sitha mengatasinya?
Bagian yang tersulit adalah memutuskan materi-materi yang sesuai untuk kondisi di Indonesia karena sumber referensi dan pengalaman saya kebanyakan berdasarkan pada kondisi di luar Indonesia. Cara mengatasinya adalah dengan banyak membaca dan mengikuti diskusi maya antara sesama cloth diapering parents khususnya yang tinggal di Indonesia. Dari situ saya bisa memilih dan fokus pada materi-materi tertentu.

 

  • Menguntungkan nggak sih, nerbitin indie, menurut Mbak Sitha? Kalau menguntungkan, berapa lama sih balik modalnya?
Saya bisa balik modal dengan cepat. Begitu pembukaan pre-order, pesanan sudah banyak masuk. Saya tidak ingat tepatnya kapan, saya rasa di collective order yang kedua (khusus untuk reseller), modal saya sudah kembali. Setelah itu saya tidak memikirkan keuntungan karena yang terpenting adalah manfaat dari buku Popok Kain Modern tersebut untuk para member Milis Popok Kain maupun non member. Setiap keuntungan dari penjualan buku tersebut dimasukkan ke dalam kas Milis Popok Kain. Beberapa angka yang tidak terhitung, saya salurkan dalam bentuk sumbangan buku dalam kegiatan-kegiatan Milis Popok Kain.

 

  • Di buku Popok Kain Modern, Mbak Sitha melibatkan sejumlah toko clodi online. Bagaimana bagi hasilnya? Apakah ada harga khusus reseller?
Harga khusus reseller @ Rp 39,000. Saya meminta para reseller untuk menjual buku seharga sama dengan harga ecerannya (sama dengan harga yang dijual oleh HM). Nama-nama online store yang ada dalam buku Popok Kain Modern tidak membayar secara khusus untuk bisa dicantumkan di situ. Mereka adalah para sponsor kegiatan kami serta para reseller buku Popok Kain Modern. Pencantuman mereka dalam buku tersebut adalah salah satu bentuk terima kasih kami atas dukungan mereka selama ini.

 

  • Adakah rencana menulis atau menerbitkan buku lain?
Saya dan dua rekan dalam Milis Popok Kain sudah berencana membuat buku tentang cara pembuatan popok kain modern. Ini ide lama sekali dan sayangnya saat ini kami terhalang oleh kesibukan masing-masing. Mohon didoakan saja ya.

***