Cahaya dari Madrasah Pertama

BERBAHAGIALAH, BERCAHAYALAH IBU, SEKOLAH KEHIDUPAN IBU, RAHIM PERADABAN

Ida Nur Laila dan Cahyadi Takariawan

Allah menitipkan amanah segumpal darah dalam rahim seorang ibu. Ia bertumbuh dan belajar dari rahim peradaban. Dari ibu, anak belajar mengeja rasa. Alangkah indahnya jika ibu bahagia.

Mempersiapkan ibu, adalah keniscayaan saat berharap generasi dan peradaban yang lebih baik. Tak mungkin seumur jagung membangun karakter madrasah pertama. Bahkan, mempersiapkannya jauh hari, 20 tahun sebelum ia jadi ibu. Demikian meminjam istilah seorang ustadz di salah satu tulisan yang akan anda temukan dalam lembaran buku ini.

Buku ini bertutur dengan indah, tentang pesan cinta para ibu kepada anaknya. Cinta kualitas terbaik sebab berorientasi jauh melampaui usia kehidupan. Pesan untuk mencintai Allah, Rasul dan diinul Islam. Untuk mematut diri dengan akhlak mulia, serta keteguhan pada nilai perjuangan.

“Perjalanan setiap ibu tidak pernah sama. Namun, cinta dalam hati mereka untuk suami dan anak-anaknya adalah niscaya. Maka menyemangati diri untuk menjadi ibu yang baik, bukan berarti kita menjadi punya hak untuk mengecilkan usaha ibu lain yang mungkin menghadapi ujian yang berbeda dengan diri kita. Berusaha memaklumkan orang lain atas kekurangan-kekurangannya dalam rangka berbaik sangka, bukan pula alasan untuk menjadi lemah dan berhenti berikhtiar yang terbaik untuk keluarga.” (Arrifa’ah, hal 22)

Mari kita kenang perjuangan perempuan mulia di sebuah padang tandus dekat Baitullah. Beliaulah Hajar Ummu Ismail. Perempuan yang jauh dari kehidupan glamour perkotaan. Rela menyepi sendirian bersama buah hati, tersebab suami seorang Nabi harus menjalankan amanah sebagai penyampai risalah.

Lihatlah kecerdasan Hajar dalam mengejar kebahagiaan hakiki. Kendati ujiannya sangat berat, tak ada ucapan yang mengundang murka Allah. Justru kalimat bijak dengan tawakal yang tinggi.

“Jika memang begitu perintah-Nya, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Hajar, tegar membersamai buah hati dalam kesendirian di padang gersang. Narasinya tentang ayah bagi Ismail, adalah pesan-pesan keimanan yang indah. Hingga, Ismail tumbuh menjadi anak yang taat pada Allah, pada orang tua dan berakhlak mulia.

“Menjadi seorang ibu adalah berupaya untuk tetap tegak bertahan mendampingi keluarga, meski dengan segala celah yang kita punya. Justru saat kita mengakui kekurangan kita itulah, kita akan mendapati diri berada pada titik tawakkal kepada Allah, memahami bahwa segala kebaikan bersumber dari-Nya, bukan semata-mata dari hasil usaha kita.” (Arrifa’ah, hal 22)

Ragam kisah dari para bunda, adalah pelajaran berharga yang sayang jika terkubur oleh zaman. Bertutur tentang masa penyesuaian diri dari lajang menjadi seorang istri, bahkan ada yang langsung menjadi ibu kedua. Perjuangan melakoni kehamilan, kelahiran hingga membersamai buah hati. Tak selalu kondisi sesuai dengan kehendak diri, adakalanya ujian datang menyapa. Mengukur kesabaran untuk mendamaikan gejolak rasa.

Menulis untuk mengalirkan rasa, dapat menjadi terapi jiwa menjemput bahagia. Keren Baikie mengemukakan, bahwa ketika kita menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan, emosi dan bersifat traumatis, kesehatan fisik dan mental kita dapat menjadi lebih baik dibandingkan ketika kita menulis dengan topik yang netral. Beliau adalah seorang psikolog dari Universitas New South Wales. Kesimpulan ini merupakan hasil studi Keren Baikie. Beliau meminta semua partisipannya untuk menuliskan tiga sampai lima peristiwa dalam waktu 15 menit dan hasilnya benar-benar signifikan.

Menulis adalah tradisi ulama. Alangkah mulia jika kita mengikutinya. Mewariskan pesan keimanan kepada ananda, bagian dari tanggung jawab membimbing ananda menuju surga. Menuliskan jejak perjalanan pengasuhan, dapat membangun ikatan yang hangat dengan ananda. Kelak, ia juga dapat merekatkan cinta kala ujian datang menyapa. Menulis, dapat mengundang bahagia.

“Ada segenap cinta di dalam dada untuk para buah hati. Ada selaksa harapan yang membuncah untuk setiap kebaikan mereka. Ada kisah-kisah yang berbeda, yang kita yakini akan selalu memiliki hikmahnya sendiri-sendiri. Menuliskan tentang hal itu, mungkin hanyalah salah satu cara kita untuk menengok kembali jalan yang telah kita lalui, sambil mengumpulkan energi untuk kembali melangkah lagi. Bersama-Nya, tak akan ada yang sia-sia. Menggapai ridha-Nya, adalah tujuan kita, agar kebersamaan di dunia dapat berlanjut dengan perjumpaan dan kebahagiaan abadi di surgaNya. Insyaallah…” (Arrifa’ah, hal 23)

Barakallahu lakunna untuk semua penulis. Semoga dapat menjadi ilmu yang bermanfaat bagi umat.

 

Teruslah berkarya. Teruslah bahagia.

Teruslah bercahaya dengan pena yang menggoreskan inspirasi kebaikan.

 

Link Pilihan:

Artikel Terbaru

No Image
15 January 2014

Untuk memudahkan para penulis atau penerbit yang...

No Image
15 January 2014

Bisa menerbitkan buku sendiri (indie), tentu hal...

13 January 2014

Sering gagal menyelesaikan tulisan? Jangan...

13 January 2014

Promo murah adalah faktor penting dalam...

13 January 2014

menulis biografi adalah menulis sejarah hidup. Ia...

10 January 2014

Cloth Diaper (Clodi) atau popok kain modern saat...

Our Facebook