Apa Saja yang Wajib Dimiliki Penulis

Penulis kini menjadi profesi yang semakin dilirik untuk digeluti. Karena potensi ekonominya semakin menjanjikan, ada sejumlah hal yang wajib dimiliki oleh seorang penulis. Disebut wajib sebab beberapa poin ini menjadi semacam syarat dan ketentuan untuk membangun penulis sebagai profesi yang kuat dan menjanjikan keuntungan berlipat. Walau keuntungan secara finansial cukup luar biasa, terbukti dari besarnya royalti yang diterima beberapa penulis kondang, tetapi karakteristik mutu patut dijunjung tinggi.

Keahlian yang dilandasi oleh keterampilan merangkai kata ini hanya bisa solid dan terjaga jika ia terus diupayakan lewat hal-hal pokok yang menjadi ciri khas seorang penulis. Harus ada upaya sengaja dan perjuangan ekstra untuk bisa menjadi penulis yang berdaya guna. Yaitu penulis yang sadar diri bahwa ia selalu punya pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dan skill yang wajib ditingkatkan sebagai berikut.

Keterampilan berbahasa

Peranti utama seorang penulis adalah bahasa, yang mencakup penguasaan gramatika, kosakata yang kuat dan kaya, presentasi gagasan, serta ketedasan paragraf. Tedas berarti setiap butir ide dituangkan dengan jelas dan mudah dipahami. Yang tak kalah penting adalah kemampuan mengelaborasi ide dalam penyajian yang runtut, selaras, dan kohesif. Lebih-lebih dalam karya fiksi di mana keterampilan berbahasa sangat diunggulkan sebab bahasa menentukan kenikmatan cerita.

Komunikasi  

Menulis pada dasarnya adalah mengomunikasikan gagasan kepada pembaca. Kemampuan berkomunikasi wajib dikuasai seorang penulis agar pesan yang ia suntikkan dapat tersampaikan secara efektif dan diterima secara meyakinkan. Untuk menjadi komunikator andal, penulis terlebih dahulu mesti memahami maksud dan tujuan ia menulis. Penulis juga harus mengenali target pembaca agar bahasa dan tone bisa disesuaikan. Dalam konteks ini, dosen dan guru sebenarnya berpotensi jadi penulis andal karena terbiasa berbicara di kelas untuk menyampaikan sesuatu.

Riset dan observasi

Keterampilan wajib berikutnya bagi penulis adalah riset yakni menyelidiki suatu hal secara sistematis dan komprehensif untuk mendukung proses penulisan. Riset tidak harus berlangsung di lapangan, tetapi bisa berupa kajian pustaka guna menggali sumber-sumber yang relevan. Kemampuan observasi sangat dibutuhkan untuk dapat menemukan data yang relevan atau fakta baru yang selama ini luput oleh perhatian penulis lain. Penulis harus teliti dalam menghimpun materi dengan perhatian penuh pada detail-detail penting.

Gairah membaca

Kemampuan melakukan riset dan observasi akan mendukung proses pembacaan aneka sumber, baik berupa buku, majalah, atau jurnal. Setiap penulis atau siapa pun yang ingin menjadi penulis andal wajib suka membaca dengan gairah tinggi. Gairah menjadi diksi yang tepat karena penulis memang harus betah dan menikmati setiap bacaan dengan keinginan dan hasrat yang kuat. Menyisir teks-teks atau tabel dalam aneka font mesti ajek diagendakan, apalagi jika tengah menggarap sebuah naskah. Baik berbentuk buku cetak dengan kertas fisik maupun e-book, gairah membaca tak boleh padam karena manfaat membaca sangat banyak.

Menyarikan ide

Bacaan yang berlimpah harus disaring dengan metode yang tepat. Kalau tak selektif memilih bahan untuk mendukung tulisan, bisa-bisa waktu banyak terbuang tanpa manfaat yang jelas. Di sinilah mendesaknya kemampuan menyarikan ide dari beragam pustaka yang dikaji. Penulis untuk penerbit mayor dan penulis buku indie yang sukses bukan hanya menyediakan waktu untuk membaca banyak buku tetapi juga piawai mendedahkan ide dari bacaan mereka yang dilatih dari praktik terus-menerus.

Kreativitas

Tanpa kreativitas yang mumpuni, sebuah buku akan sepi pembeli, apalagi penikmat setia. Bersikap dan bertindak kreatif adalah modal unggul di era serbakompetitif seperti sekarang. Era industri 4.0 menuntut kita kreatif di segala lini termasuk pemanfaatan teknologi. Kreativitas bukan hanya dipakai selama proses berkarya, tapi juga untuk memasarkan buku yang telah kita tulis. Daya kreatif harus dilatih dan dieksplorasi agar otak terbiasa. Menariknya, sebagaimana menurut penyair kawakan Maya Angelou, kreativitas tak akan ada habisnya. Semakin kita gunakan, ia justru kian berlimpah. 

Kedisiplinan 

Hal yang wajib dimiliki penulis selanjutnya adalah kedisiplinan. Disiplin berarti mampu menyusun jadwal dan konsisten mematuhi skedul tersebut agar target terpenuhi. Mustahil kita bisa menjadi penulis sukses jika kedisiplinan belum menjadi karakter. Disiplin terutama meliputi manajemen waktu sehingga kita memahami betul hal-hal yang menjadi prioitas sehingga hidup berbuah produktivitas.

Bahasa asing

Menguasai bahasa asing bisa menjadi nilai tambah bagi seorang penulis. Tak harus cakap secara lisan, pemahaman bacaan secara tertulis pun sangat bermanfaat untuk menunjang proses penulisan. Setidaknya bahasa Inggris mesti dipahami sebagai bekal untuk menggali materi. Bahan-bahan penting nyaris tentang segala hal tersedia dalam bahasa internasional ini. Akan menjadi keuntungan tersendiri jika penulis menguasai bahasa asing bukan hanya untuk memperoleh data tetapi juga untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Self-editing

Penulis tak boleh tergesa mengirimkan karya ke penerbit tanpa terlebih dahulu memeriksanya berulang-ulang. Untuk menghindari kebosanan, naskah bisa diendapkan dulu untuk dilihat beberapa waktu kemudian. Kemampuan self-editing sungguh krusial setidaknya dengan beberapa alasan. Pertama, memastikan agar tidak terjadi tipo atau salah eja. Ini penting agar penerbit menganggap kita serius menulis dengan kesalahan seminimal mungkin. Kedua, memeriksa ketaksaan dan logika cerita atau struktur penyajian yang berantakan. Sebagus apa pun idenya, akan menjemukan bila presentasi buruk. Itulah pentingnya self-editing.

Keuletan dan kelembaman 

Sikap yang juga wajib dimiliki penulis adalah keuletan dan kelembaman. Ulet berarti pantang menyerah saat memperjuangkan mimpi meskipun berakhir dengan kegagalan. Naskah boleh ditolak, tapi penulis harus tetap berkarya tanpa putus asa. Inilah yang disebut persistent. Penulis juga mesti punya sifat lembam atau resilient yakni cepat bangkit dari kegagalan. Tantangan bukan menghambat, tapi justru memancing munculnya peluang. Tepat seperti ujaran Gever Tulley penulis dan pendidik asal Amerika bahwa sifat persistent dan resilient bisa muncul saat kita dihadapkan pada kesulitan.

Semangat belajar

Semangat belajar harus dipelihara dan dikembangkan. Bukan melulu membaca buku, tetapi belajar dalam pengertian seluas-luasnya. Bisa berupa belajar hobi atau keterampilan baru, belajar mengendalikan emosi, dan lain sebagainya. Belajar terus-menerus akan membuka jaringan jika kita bergabung dalam komunitas. Selain itu, belajar bersama akan menambah semangat untuk terus berkarya. Sumber ide bisa di mana saja, termasuk proses belajar yang berlangsung sepanjang waktu.

 

Tim HalamanMoeka.Com

Artikel Terbaru

22 March 2019

(Font logo facebook, google, youtube, adidas,...

01 March 2019

Ketika kita menulis sebuah tulisan atau karangan...

21 February 2019

Buku telah menjadi media yang dapat digunakan...

08 February 2019

Buku-buku KPK yg dicetak di tempat...

08 February 2019

Bagi penulis atau siapapun yang akan mencetak...

06 February 2019

Cloth Diaper (Clodi) atau popok kain modern...

06 February 2019

Banyak komunitas bermunculan di sejumlah jejaring...

06 February 2019

Begitulah penggalan sinopsis dari buku Life...

Our Facebook