7 PRINSIP PENULISAN OLEH BAMBANG TRIM

Apakah Anda pernah mendengar tentang Tujuh Prinsip Penulisan? Banyak buku penulisan lawas yang membahas soal ini, di antaranya buku Komposisi karya Gorys Keraf. Secara ringkas, saya mengutip dari buku The Liang Gie.

Siapa The Liang Gie? Para penulis zaman now mungkin tidak begitu akrab dengan sosok ini. Ia tokoh penulis yang saya kagumi dari dulu. The Liang Gie pernah menjadi dosen UGM yang telah menulis puluhan buku berbagai pengetahuan (utamanya bahasa Indonesia). Ia dikenal sebagai pakar penulisan dan kadang juga sebagai pakar administrasi.

Waktu saya masuk Unpad. Buku karya The Liang Gie berjudul Cara Belajar yang Efisien sangat membantu saya. Bukunya yang lain berjudul Terampil Mengarang (Penerbit Andi Yogyakarta), ini juga menjadi rujukan saya dalam belajar dan mengajarkan menulis.

Nah, Pak The menghimpun lagi enam prinsip menulis dari para ahli, yaitu clarity, conciseness, correctness, unity, coherence, emphasis. Lalu, saya menambahkan satu lagi yaitu completeness.
Saya akan bahas prinsip penting ini yang tampaknya sudah semakin dilupakan dalam menulis atau bahkan, menurut Uda Dedi malah tidak diketahui.

1. Kejelasan (Clarity)
Semua tulisan harus memenuhi prinsip kejelasan agar mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca sasaran. Selain mudah dipahami, tulisan juga sebaiknya tidak mengandung kemungkinan disalahtafsirkan oleh pembaca.

Dosen saya selama masa kuliah, Ibu Sofia Mansoor, menggunakan istilah ‘ketedasan’. Dalam KBBI ‘tedas’ artinya ‘nyata’ dan ‘jelas’. Jadi, sebuah tulisan yang mengandung ketedasan adalah tulisan yang mudah dipahami. Lawan dari ketedasan tentu kekaburan atau kesamaran. Anda tentu pernah menemukan tulisan semacam ini, bahkan yang mengandung bias sehingga membuat pembaca salah menafsirkan. Para produsen hoaks juga alih-alih menggunakan prinsip ketedasan, mereka sengaja membelokkan tulisan agar salah tafsir.

Fowler memberikan tip untuk membantu kejelasan tulisan melalui kata-kata:
• Gunakan kata yang umum dikenal daripada kata yang harus dicari-cari artinya;
• Gunakan kata yang konkret daripada kata yang abstrak;
• Gunakan kata tunggal daripada keterangan yang panjang lebar;
• Gunakan kata yang pendek daripada kata yang Panjang; dan
• Gunakan kata dalam bahasa sendiri daripada bahasa asing.

Sebagai pelatihan, cek lagi tulisan Anda di medsos. Satu paragraf saja. Apakah Anda sendiri memahaminya?

Jadi, jika kita saja sendiri tidak paham, apalagi orang lain?
Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca status FB seperti ini dan cara menulisnya persis saya kutip—mudah-mudahan penulisnya bukan anggota RUMPI:

EGO itu resisten terhadap perubahan … ia akan mempertahankan dengan segala cara, mencari PEMBENARAN atas segala prilakunya adalah tugasnya meNYADARI secara pasif membuatnya LEMAH dan LENYAP berubah menjadi sesuatu yg memBERDAYAkan dirimu itulah PENCERAHAN

Apakah Anda mendapat pencerahan …?
Itu yang pertama. Panjang banget ya …. Tarik napas dulu. Ini memang boleh jadi satu buku.

2. Keringkasan (Conciseness)
Ringkas tidak sama atau tidak identik dengan tulisan pendek. Tulisan maksimal sepanjang 300 kata yang selalu disarankan di media sosial termasuk tulisan pendek. Namun, tulisan itu tidak dapat dikatakan ringkas apabila menghambur-hamburkan kata yang tidak bermakna, kalimat bertel-tele, serta berbagai ungkapan yang berlebihan.

Perhatikan contoh paragraf berikut:
Sebelumnya, terlebih dahulu kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan karena telah memberi jalan bagi kemudahan kami untuk menuntaskan buku ini sebagaimana mestinya.

Jadi, konkretnya keringkasan adalah bahwa sebuah tulisan tidak disajikan dengan kata-kata yang tidak perlu (berlebihan = pleonastis), kalimat yang bertele-tele, pengulangan (redundan), dan penjelasan yang tidak berkepanjangan.

Seorang ahli keterampilan menulis yang masyhur bernama William Strunk, Jr. membuat perumpamaan tulisan yang tidak ringkas ibarat lukisan yang tidak memerlukan elemen garis atau coretan atau mesin yang tidak memerlukan komponen tambahan. Setiap kata yang digunakan haruslah menyatakan sesuatu.

Ada penulis yang memang miskin ide, tetapi memaksakan untuk menulis. Alhasil, tulisannya merupakan pemborosan kata-kata yang tidak perlu dan pengulangan-pengulangan atau berputar-putar. Hal ini sama juga dengan seorang pembicara publik yang sudah kehabisan bahan pidato. Pastilah pidatonya panjang, tetapi tidak ada isinya.

3. Ketepatan (Correctness)
Ketepatan artinya bahwa butiran ide yang disampaikan kepada pembaca sasaran sepenuhnya cocok atau pas seperti yang dimaksud penulisnya. Hal yang tidak termaafkan jika maksud penulis adalah A, tetapi karena kecerobohan dalam penulisan, pembaca menangkapnya B.

Maka, berhati-hati jika kita hendak menyaijikan tulisan dengan topik yang kurang kita kuasai. Pastikan kita mampu dan mau melakukan riset mendalam agar tidak jadi salah kaprah orang yang membacanya.

Selain pengusaan terhadap materi, penulis juga harus menguasai kaidah kebahasaan. Coba rasakan judul berikut ini: “Bocah Empat Tahun Tertelan Peluit”. Pembaca menganggap judul itu mengada-ada.
Singkat saja .. saya masuk ke prinsip ke-4.

4. Kesatupaduan (Unity)
Ide utama atau topik ibarat “bingkai” sebuah tulisan. Karena itu, setiap penjelasan dalam paragraf atau alinea-alinea tulisan hendaknya tidak keluar dari bingkai. Itulah yang disebut kesatupaduan dalam tulisan.

Ada kalanya penulis tergoda menambahkan paragraf, subbab, atau bab di luar ide utama. Misalnya, ketika seseorang menulis tentang topik pilkada di daerahnya, ia tergoda memasukkan bahasan sistem perpolitikan di Indonesia sehingga tulisannya menjadi melebar ke mana-mana.

Demikian pula Anda harus mengecek paragraf-paragraf yang Anda tulis apakah hanya mengandung satu ide utama (kalimat topik)? Apakah paragraf itu sudah padu dengan satu ide utama? Jangan-jangan satu paragraf ada dua, bahkan tiga ide utama.
Pelajaran tentang paragraf atau alinea itu pelajaran SD.  Tapi, banyak yang sudah lupa.

Sering kali tanpa disadari, kita menulis paragraf dengan dua ide utama sehingga paragraf tersebut tidak padu dalam menjelaskan maksud kita. Pecahlah paragraf tersebut dan ingat bahwa dalam satu paragraf minimal ada dua kalimat yaitu kalimat topik dan kalimat penjelas.

5. Pertautan (Coherence)
Ada istilah penulis yang piawai itu menulis ibarat air mengalir … Aliran tulisan yang tidak membuat pembaca terhenti atau berkerut kening adalah aliran yang logis. Ini berarti penulis juga harus menjaga ritme tulisannya agar tetap saling menaut. Antarsatu bagian dalam karangan, baik itu kalimat, paragraf, subbab, maupun bab harus disusun secara berurutan. Dengan demikian, terdapat aliran yang logis.

Antarsatu bagian dalam karangan, baik itu kalimat, paragraf, subbab, maupun bab harus disusun secara berurutan. Dengan demikian, terdapat aliran yang logis.

Kesinambungan semacam ini memang tidak mudah bagi seorang pemula. Anda dapat berlatih dahulu dari membuat satu paragraf, kemudian membuat beberapa paragraf yang saling terkait.

Media sosial seperti Facebook yang menyediakan ruang cukup bagi Anda untuk menulis paragraf-paragraf, dapat dijadikan tempat berlatih. Anda dapat memulainya dari satu paragraf yang mengandung hanya satu topik utama. Mulailah menulis di FB dengan menulis satu paragraf hanya terdiri atas 2 sampai dengan 3 kalimat. Lama-kelamaan Anda akan terbiasa untuk menata struktur kalimat sehingga koheren.

Mulailah di FB dengan menulis satu paragraf hanya terdiri atas 2 sampai dengan 3 kalimat. Lama-kelamaan Anda akan terbiasa untuk menata struktur kalimat sehingga koheren.
Koheren = berhubungan, bersangkut paut.
Terus kita masuk ke prinsip ke-6 ….

6. Penegasan (Emphasis)
Soal ini mungkin jarang diungkapkan dalam pelatihan-pelatihan menulis. Di dalam tulisan Anda, pasti ada butiran informasi atau pengetahuan yang penting. Tonjolkanlah hal itu atau buatlah penekanan sehingga menancap kuat di benak pembaca.

Antarbagian tulisan derajatnya pasti berbeda. Tidak semua harus dituliskan secara datar dan senada. Pada bagian penting Anda dapat menggunakan kata-kata yang bernada lebih kuat untuk menarik perhatian pembaca.

Kata-kata yang kuat salah satunya menggunakan modalitas pancaindra. Dalam istilah NLP itu disebut VAKOG (visual, auditory, kinaesthetic, olfactory, dan gustatory).
Perhatikan contoh berikut:

Resah itu merambat cepat menjadi kecemasan yang luar biasa. Wajahku sudah tampak pucat pasi dan menggigil. Kurasakan dingin yang paling dingin ….

Ini contoh deskripsi sebuah keadaan yang menjadi penegasan bagaimana sang tokoh menghadapi masalah.
Baiklah, sekarang masuk yang terakhir. Prinsip ke-7.

7. Ketuntasan (Completness)
Ketuntasan adalah hal yang tidak boleh diabaikan oleh penulis bahwa tulisannya memang selesai sesuai dengan maksud yang disampaikan. Jangan menggantung pembahasan tulisan sehingga pembaca bertanya-tanya. Tentu jangan samakan dengan karya fiksi yang sengaja digantung ceritanya.

Memang beberapa penulis sering kehabisan energi pada saat hendak mengakhiri tulisannya. Oleh karena itu, beberapanya memilih menunda menuntaskan dan beberapa lagi memilih mengakhiri tulisan tanpa adanya ketuntasan. Beberapa lagi memaksakan dirinya menuntaskan apa adanya.

Lebih baik Anda menunda sampai Anda memiliki energi baru untuk menyelesaikan tulisan dan menuntaskan pembahasannya. Anda tetap harus berpatokan untuk memuaskan pembaca Anda, bukan diri Anda pribadi.

Itulah ketujuh prinsip menulis yang dapat Anda terapkan saat menulis draf naskah. Jika Anda berlatih dengan ketujuh prinsip ini, paling tidak–menurut saya– 70% kemungkinan Anda berhasil sudah di tangan. Lalu, 30% kekuatan Anda yang lain ada pada kemampuan merevisi dan menyunting tulisan.

TERIMA KASIH

(Diambil sepenuhnya dari tulisan Bambang Trim_Penulis Profesional Indonesia)

 

Link Pilihan:

Artikel Terbaru

10 January 2014

Cloth Diaper (Clodi) atau popok kain modern saat...

13 January 2014

menulis biografi adalah menulis sejarah hidup. Ia...

13 January 2014

Promo murah adalah faktor penting dalam...

13 January 2014

Sering gagal menyelesaikan tulisan? Jangan...

Our Facebook