5 Alasan Menerbitkan Buku Secara Indie

***

Sabrina Febrianti, masih duduk di bangku sekolah menengah atas, dengan 2 bukunya berjudul 24/7 & Asya dan Story diterbitkan secara konvensional. Penjualannya sangat bagus. Buku ketiga ia mencoba untuk menerbitkan secara indie bersama penyedia jasa penerbitan Halaman Moeka Publishing. Judulnya Phantera Leo, tebal 485 halaman, cover keren dengan spot UV.

Tahap pertama dia 1200 eks dan buka PO di Shopee akhir Mei 2020. Terlebh dahulu dia mengabarkan kepada para fans-nya. Dalam hitungan menit buku tersebut lagsung habis. Tahap kedua di awal Juni 2020, cetak 1300 eks, dan kurang lebih dalam 15 menit, buku tersebut habis terjual. Berarti sudah terjual 2500 eks.

Jika buku tersebut harga cetaknya @35-40rb, dan dijual dengan harga 90 sd 100 rb, maka pendapatan penulis muda tersebut luar biasa. Dan PO berikutnya masih akan berlanjut.

***

Ardian Squ, dengan komik seri Pengin Jadi Baik juga menerbitkan bukunya secara indie. Di seri Pengin Jadi baik 5, beliau membuka PO bekerja sama dengan para penjual buku online (salah satunya dengan TBO Halaman Moeka), dan oplahnya mencapai puluhan ribu eksemplar.

Di setiap terbit seri berikutnya, beliau juga membuka PO kembali untuk seri-seri sebelumnya.

***

Ada lagi yang juga sudah terkenal dengan Komik Hadis 99 Pesan Nabi, Vby Djenggoten. Setelah beberapa buku sebelumnya diterbitkan di penerbit konvensional, kini penulis Islami tersebut mulai berani menebitkan buku secara indie. Dua bukunya Komik Hadis 99 Pesan Nabi Jilid 1 dan Komik Hadis 99 Pesan Nabi Jilid 2 dipublish secara indie bersama Halaman Moeka Publishing dan mencapai penjualan yang memuaskan. Dijual sistem PO bekerja sama dengan  para toko buku online. Cetakan pertama 7000 eks, kedua 2000 eks, dan ketiga 1000 eks.

***

Alasan orang menerbitkan buku secara indie atau indie publishing bisa bermacam-macam. Namun satu hal yang pasti bahwa mereka terdorong menerbitkan buku sendiri lantaran ingin membagikan kisah atau pengalaman kepada pembaca yang lebih luas. Bukan hanya unek-unek atau pengalaman pribadi, tetapi juga berupa kompetensi profesional yang bisa menginspirasi pembaca. Dengan potensi keuntungan yang menggiurkan, apalagi fleksibilitas waktu saat menulis, tak heran jika penerbitan buku secara indie semakin populer dan dilirik banyak orang.

Baca juga: 10 Penulis Buku Indie yang Sukses (Bagian ke-2)

Penulis kini bukan lagi pekerjaan sampingan dengan hasil kecil, melainkan profesi masa depan yang banyak diimpikan orang. Selain muncul banyak pelatihan atau bimbingan profesional untuk menjadi penulis andal, sertifikasi pun kini tersedia untuk menguji keahliannya dalam merangkai kata dan menuangkan gagasan. Berikut ini 5 alasan mengapa menerbitkan buku secara indie masih layak diperhitungkan. 

  1. Jaminan diterima

Hal menyedihkan bagi seorang penulis selain mendapat respons negatif atas isi bukunya adalah penolakan ketika naskahnya dikirimkan ke penerbit. Penerbit mayor memang punya kriteria khusus dan memberlakukan seleksi ketat sebelum menerbitkan sebuah naskah. Harap maklum, karena dana yang dipakai untuk mencetak buku memang tidak sedikit. Ditambah lagi persaingan dengan banyak penulis mapan yang bisa menggaransi penjualan dari pembaca yang loyal membuat peluang lolos semakin kecil.

Penerbit indie akhirnya dilirik karena naskah yang kita kirimkan akan selalu diterima. Jaminan inilah yang membuat penulis baru terus bermunculan dengan berbagai genre berkat kemudahan yang ditawarkan oleh penerbit indie. Hampir tak ada penolakan selama naskah yang bersangkutan tidak bermuatan pronografi atau berpotensi menyulut permusuhan berbasis SARAP (suku, agama, ras, antargolongan, dan politik).    

  1. Kecepatan proses

Alasan kedua orang menerbitkan buku secara indie adalah alur produksi yang relatif cepat. Jika penerbit mayor butuh waktu setidaknya 6 bulan untuk memproses naskah hingga menjadi buku cetak, maka penerbit indie bisa menawarkan layanan lebih cepat. Sebuah penerbit indie bahkan bisa memproses naskah dalam waktu 2 minggu termasuk pencetakan. Bandingkan dengan penerbit mayor yang masih butuh waktu 3 bulan hanya untuk seleksi naskah.

Dalam hal ini, penerbitan indie menjadi solusi tepat bagi penulis yang ingin mengubah naskahnya menjadi buku dalam waktu cepat misalnya untuk kepentingan pelatihan atau peningkatan pangkat. Apalagi dosen dan guru yang tentu sangat terbantu berkat kecepatan proses ini untuk mendukung karier mereka.

  1. Kemasan sesuai keinginan

Keuntungan berikutnya menerbitkan buku secara indie tentu saja keleluasaan yang dimiliki oleh penulis. Berbeda dengan penerbit mayor yang menangani seluruh proses dari pracetak hingga cetak, maka penerbit indie menyerahkan sepenuhnya kepada penulis tentang bagaimana buku akan dikemas. Mulai dari ukuran fisik buku, bentuk desain atau layout isi, jenis font yang dipakai untuk teks, warna dominan sampul/cover, hingga pilihan kertas yang akan digunakan untuk mencetak buku. Singkat kata, penulis memiliki privilese untuk menentukan seperti apa buku akan diwujudkan.

  1. Harga terjangkau

Seiring bermunculannya penerbit indie di tanah air, industri penerbitan pun mengalami banyak kemajuan baik dari sisi inovasi layanan maupun harga yang ditawarkan. Dengan mengandalkan penerbit indie, ide kita bisa segera tampil dalam bentuk buku cetak memikat dengan harga yang terjangkau. Tinggal kita bandingkan penerbit mana yang layanannya memuaskan dan kualitas cetaknya mumpuni. Biasanya setiap penerbit memiliki sekian paket penerbitan yang bisa dipilih penulis dengan rentang harga berbeda. Semakin tinggi harganya, semakin istimewa pula layanannya.

  1. Keuntungan lebih besar

Penulis yang menerbitkan buku, baik lewat jalur indie atau penerbitan mayor, tentu mengharapkan keuntungan ekonomi selain kepuasan nonmateriil. Jika penerbit mayor biasa menawarkan opsi royalti dengan pembayaran setiap triwulan atau satu semester, maka penerbitan indie menjanjikan profit yang lebih cepat. Margin profit juga bisa diatur sendiri menyesuaikan ongkos cetak sehingga keuntungan bisa lebih besar. Penulis buku indie bisa membukukan penjualan dengan cepat tanpa menunggu laporan dari toko buku seperti penerbit mayor. Semakin agresif penulis menjual bukunya—tentu lewat pemasaran yang kreatif—maka semakin cepat pula bukunya ludes dan mengganjarnya dengan keuntungan berlipat.

Dengan sistem direct selling, buku cepat menyapa pembaca tanpa melalui distribusi yang rumit dan laporan keuangan yang lambat. Tanpa distributor dan toko buku, uang promosi bisa dikurangi sehingga keuntungan membengkak. Menyadari hal ini, setiap penulis indie hendaknya bergerak dengan optimisme untuk mengolah setiap ide menjadi naskah unggul yang tak kalah dengan terbitan penerbit mayor.

Tim HalamanMoeka.Com

 

Link Pilihan:

Artikel Terbaru

05 May 2014

Saya tidak bisa menggambar. Saat mengonsep...

No Image
05 May 2014

Awal perjalanan karirnya menerjemahkan sungguh...

05 May 2014

"After 'Harry Potter' and 'Lord of the Rings,'...

No Image
15 January 2014

Pengetahuan mengenai dunia penulisan dan...

15 January 2014

Seperti juga media lain, buku juga mempunyai...

No Image
15 January 2014

Hal yang sangat penting setelah semuanya selesai...

No Image
15 January 2014

Penerbitan & Cetak Buku Murah - Gratis Biaya...

No Image
15 January 2014

Sesuai dengan motto kami, One Stop Publishing...

Our Facebook