Our Facebook

Menerbitkan buku indie secara keroyokan bisa dibilang susah-susah gampang.

Dari segi dana, umumnya antologi indie memang memudahkan. Karena biasanya, semua ongkos pengeluaran ditanggung patungan. Dalam salah satu buku antologi puisi indie yang pernah kami tangani, para penulis malah bersepakat menabung dulu. Untuk memastikan sistem tabungan berjalan lancar, ditunjuklah bendahara.

Tentu saja masalah dana ini tak melulu mutlak ditanggung bersama. Saat menerbitkan LTA, Ain dan Shinta tidak ikut urun dana sampai cetak. Semua pengeluaran saya tanggung sendiri bersama suami. Juga semua pekerjaan seperti merumuskan ide cover, membuat kategorisasi, memilih judul, memilih distributor, sampai merumuskan rencana promosi.

Semua ini saya lakukan bukan semata-mata egois atau tidak melibatkan Ain dan Shinta, tentu saja. Sedari awal, semua perkembangan apapun selalu saya cc-kan ke Ain dan Shinta. Namun, kondisi Shinta yang saat itu bermukim di Singapura dan Ain yang tengah mempersiapkan pernikahan, membuat mereka sulit memfokuskan diri dalam penggodokan LTA.

Pun menjadi seksi repot, tak serta merta membuat saya merasa pantas menerima kredit atas semuanya. Bagaimanapun, ini bukan buku saya pribadi. Ini juga buku Ain dan Shinta. Dan hanya karena mereka kebetulan sahabat-sahabat saya, bukan berarti saya tak mengapresiasi mereka.

Secara terbuka, kami mendiskusikan nominal dari artikel mereka yang saya pilih untuk beli putus. Secara terbuka saya sampaikan bahwa saya dan suami sungguh-sungguh menguras tabungan untuk membiayai seluruh pengeluaran dan belum sanggup untuk membayar dengan sistem royalti. Demikian juga dengan Yena, yang membuat kaver LTA. Secara terus terang kami berdiskusi masalah honor.

Secara terus terang saya juga bertanya pada mereka tentang pencantuman nama di kaver buku. Dan sungguh saya terharu saat Ain dan Shinta sama-sama berujar “Nama No’ aja yang di depan. No’ kan udah repot ngurus semua-muanya.”

Demikian juga saat promo. Meski saya dan suami berperan sebagai EO dadakan yang mengatur jadwal promo dan launching, saat kami on-air di radio atau diwawancarai, saya selalu mengajak Ain, Shinta, bahkan Yena yang membuat kaver. Yang artinya, jawaban tidak didominasi oleh saya.

Karena sekali lagi, saya berpikir, LTA bukan sepenuhnya milik saya. Hanya karena saya dan suami yang menerbitkannya secara indie, tak serta merta membuat LTA menjadi buku tunggal saya. LTA juga milik Ain, Shinta, dan Yena.

*** Yang membuat menerbitkan buku indie secara keroyokan jadi agak ribet, menurut saya adalah banyaknya orang yang terlibat. Bukan hal baru bahwa ada banyak kepala maka akan banyak ide dan pemikiran. Beruntungnya saya, Ain, Shinta dan saya memang bersahabat. Sudah terjalin saling pengertian yang murni tanpa prasangka. Saat saya menghilangkan beberapa bagian dalam artikel mereka, mereka percaya sepenuhnya pada saya dan tak berpikir macam-macam bahwa saya hendak show off misalnya. Kami saling percaya.

Namun tentu saja, keberuntungan tidak terjadi setiap hari. Dalam beberapa buku indie yang saya dan suami kerjakan, sering terjadi perdebatan panjang tentang macam-macam hal. Yang menurut saya pribadi, memang penting untuk dikompromikan dengan para kontributor lain. Setidaknya, dengan jalan terakhir: voting.

Kita memang tak bisa menyenangkan semua orang. Namun, alangkah baiknya jika tercapai kata sepakat dan melegakan semua pihak yang terlibat dalam sebuah buku. IMHO, hal-hal yang perlu didiskusikan bersama oleh seluruh pihak yang terlibat dalam suatu buku antologi indie adalah:

- Cover Hendaknya, sedari awal semua penulis dan kontributor yang terlibat dalam buku indie urun ide tentang cover yang menurut mereka pas dengan napas buku tersebut. Akan lebih baik lagi jika ide tersebut bisa tertuang dalam oret-oretan sketsa kasar di atas kertas, seperti yang saya tuliskan dalam Menyusun Panduan Ilustrasi Cerita Anak dan Merancang Konsep Sampul Buku.

Setelahnya, baru menghubungi desainer kaver dan meminta untuk membuat beberapa alternatif kaver.

- Nama penulis yang dipasang di cover Alangkah baiknya jika didiskusikan bersama nama yang hendak dipasang di kaver. Jika sudah sepakat memasang satu nama, maka mungkin bisa ditulis: X, dkk. Alternatif lain: menggunakan nama perkumpulan atau kelompok yang diikuti oleh seluruh penulis, seperti misalnya: Murid-murid Sekolah Kehidupan. Atau bahkan nama yang dirancang sendiri, seperti: Padang Oase oleh Tujuh Musafir Muda.

- Endorser Setiap orang bisa saja punya endorser yang ingin dimintai endorsementnya. Yang perlu dikompromikan adalah: latar belakang si endorser, pekerjaan si endorser, dan kecenderungan pemikiran si endorser, sesuaikah dengan napas buku indie tersebut? Di sini tentu perlu riset khusus.

- Jumlah urunan Untuk tahu berapa jumlah urunan, hendaknya dihitung dulu semua pengeluaran (dengan perkiraan ongkos cetak), yang artinya: honor lay outer, honor editor, honor desainer cover, pengurusan ISBN, biaya rencana promosi, perkiraan ongkos cetak, print digital untuk approval cover, print buku untuk koreksi lay out. Hendaknya ini disusun dalam bentuk tabel dengan format Excel, kemudian dibagi per jumlah penulis/ kontributor.

- Jumlah eksemplar dan nomor lepas Sedari awal, hendaknya ditentukan jumlah eksemplar cetakan, lalu dibuat tabel jumlah buku yang akan diberikan pada: lay outer, desainer cover, endorser, kontributor, dan keperluan promo (ex: buku hadiah saat talkshow di radio, atau buku hadiah saat launching buku, atau buku hadiah untuk kuis)

- Jenis pembayaran untuk kontributor Jika kontributor tidak ikut urunan dana menanggung ongkos bersama, bisa dipilih apakah artikel kontributor dibeli putus atau dengan sistem royalti. Akan lebih baik lagi jika dibuat surat perjanjian khusus yang mencakup segala pasal bagi kontributor dan pengumpul naskah, termasuk di dalamnya jatuh tempo pembayaran, nominal angka, dll.

- Keterlibatan dalam promo Hendaknya, libatkan seluruh pihak saat promo. Artinya, jika ada launching atau wawancara, seluruh pihak bisa ikut bercerita tentang proses kreatifnya. Tak hanya itu, hendaknya seluruh pihak juga bagi-bagi tugas dalam kegiatan persiapan promo di balik layar, misalnya saat: Mempersiapkan Bedah Buku.

Terkait dengan berelasi dengan kontributor dalam menerbitkan buku indie, hendaknya tercapai kesepakatan yang melegakan seluruh pihak. Agar kelak, buku indie tersebut menjadi buku bersama yang dimiliki oleh seluruh pihak yang terlibat di dalamnya.

—-

Free Self Publishing Service | HalamanSatoe.Com

Connect with us: E-mail: halamansatoe@gmail.com FB: HalamanSatoe Twitter: @halamansatoe